Surabaya (Antara Bali) - Dinas Kesehatan Kota Surabaya menyatakan wilayahnya hingga kini belum bisa bebas sepenuhnya atas kasus balita yang terkena gizi buruk.
Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Esty Martiana Rachmie, Rabu, mengatakan, kondisi tersebut karena masih ada bayi yang selama ini tidak tersentuh sama sekali program Posyandu.
"Padahal melalui posyandu itulah intervensi program penanganan gizi buruk diberikan," katanya seraya menyebutkan, kasus gizi buruk masih dimungkinkan terjadi.
Hal ini dikarenakan tingkat kesadaran orang tua dalam memeriksakan balitanya ke posyandu rendah.
Untuk itu, lanjut dia, sebagai langkah penanganan gizi buruk, pihaknya terus menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mau mendatangi posyandu demi peningkatan kesehatan anak dan balita.
Esty mengatakan tidak terdeteksi kasus gizi buruk di masyarakat salah satunya karena warga tidak mau membawa anaknya ke posyandu, sehingga baru diketahui ketika ditemukan kasus gizi buruk. (LHS/T007)
