Denpasar (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat 495 bencana terjadi di wilayah setempat sepanjang Januari 2026, atau mengalami kenaikan jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
“Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, pada Januari 2026 ini jumlah kejadian meningkat signifikan menjadi 495 kejadian, atau naik 278 kejadian sekitar 128 persen,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana, di Denpasar, Rabu.
Gede Teja menyebut pada Januari 2025 jumlah bencana di Bali hanya sebanyak 217 kejadian, ini menunjukkan dampak cuaca dan kondisi lingkungan memengaruhi peningkatan kejadian tahun ini.
“Secara umum, tren ini menunjukkan peningkatan intensitas kejadian pada Januari 2026, khususnya yang dipicu oleh faktor cuaca ekstrem, yang berdampak pada meningkatnya kejadian pohon tumbang dan tanah longsor serta kerugian material,” ujarnya.
Pada Januari 2025 lalu, BPBD Bali merangkum bencana pohon tumbang terjadi sebanyak 104 kejadian, tanah longsor 29 kejadian, hujan deras dan angin kencang tiga kejadian, kebakaran gedung dan permukiman 18 kejadian.
Kemudian sandaran jebol 17 kejadian, dan lain-lain enam kejadian meliputi penanganan pohon membahayakan, orang tenggelam, dan evakuasi.
Dari keseluruhan kejadian tersebut, dilaporkan tujuh orang mengalami luka-luka, tanpa korban meninggal dunia, dengan estimasi kerugian mencapai Rp5,5 miliar.
Sementara Januari 2026, terjadi kebakaran gedung dan permukiman 12 kejadian, banjir 11 kejadian, sandaran jebol tujuh kejadian, jalan jebol dua kejadian, gelombang pasang dan abrasi dua kejadian, pohon tumbang 214 kejadian, tanah longsor 106 kejadian, cuaca ekstrem 85 kejadian.
Kemudian bangunan rusak 29 kejadian, dan lain-lain 27 kejadian meliputi evakuasi jenazah, penanganan korban terseret arus, penemuan jenazah, penanganan pohon membahayakan, kebakaran kandang ternak, pencarian orang hilang, serta evakuasi pendaki.
Pada Januari 2026 tercatat dua orang meninggal dunia dan dua orang mengalami luka-luka, dengan estimasi kerugian mencapai Rp11,97 miliar.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Bali menyebut, peningkatan kejadian bencana masih berpotensi terjadi di Februari mengingat masih adanya potensi cuaca ekstrem.
Oleh karena itu ia mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan petir.
