Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan ibadah pada bulan Ramadhan tidak boleh hanya berhenti pada ritual formal, melainkan harus menyentuh kedalaman batin dan kepedulian terhadap sesama.

“Menjelang syukur Ramadhan, ada prolog yang Allah berikan kepada kita semuanya sebagai shock therapy untuk menghadapi Ramadan, yaitu Isra' Mi'raj,” ujar Menag Nasaruddin Umar saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Akbar di Masjid UIN Alauddin Kampus 2, Gowa, Sulawesi Selatan, Senin.

Menag menjelaskan Isra’ Mi’raj yang diperingati sebelum Ramadhan merupakan prolog atau persiapan mental bagi umat Islam.

Ia menggarisbawahi bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali "kesucian" dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan alam semesta.

Menag mengajak umat untuk mengalihkan fokus dari sekadar mengejar pahala personal menuju pencarian rida Allah melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi orang lain.

"Saya menyembah Tuhan karena I love you my God. Saya mencintaimu. Jadi kalau mahabbah yang berbicara, kecil itu surga, kecil itu neraka. Kita harus yakin betul bahwa Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang," kata Menag Nasaruddin Umar.

Menag juga mengingatkan bahwa keberagaman dan perbedaan pendapat di tengah masyarakat harus disikapi sebagai rahmat untuk memperkuat persaudaraan, sebagaimana tradisi yang diajarkan para sahabat Nabi.



Pewarta: Asep Firmansyah
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026