Denpasar (Antara Bali) - Bentara Budaya Bali (BBB), lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel, Kabupaten Gianyar menggelar dialog budaya mengusung tema "Cinta Museum, Cinta Indonesia", Senin petang.
Dialog tersebut menampilkan empat pembicara melibatkan ratusan peserta yang terdiri atas mahasiswa jurusan Sejarah dari sejumlah universitas di Bali dan luar daerah, kalangan permuseuman, hingga siswa SMA.
Kegiatan tersebut terselenggara berkat kerja sama BBB Jurusan Sejarah Universitas Udayana dan Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia.
Pembicara antara lain Ketua Himpunan Museum Bali Anak Agung Gde Rai yang juga pendiri Museum Arma Ubud, Prof. A.A. Bagus Wirawan, SU (Dosen Jurusan Sejarah Universitas Udayana dan Samantha Aditya Putri (Sekjen IKAHIMSI dan Duta Museum Yogyakarta).
Ketua Panitia kegiatan tersebut, Agus Rofiansyah menyatakan bahwa dialog budaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan minat kunjungan dan kecintaan masyarakat terhadap museum.
Selain itu menumbuhkan rasa nasionalisme dalam berbangsa dan bernegara.
Menurut Anak Agung Gde Rai, museum ARMA yang didirikan dan dikelolanya dibangun dengan konsep 'living museum', yakni menyatukan museum dengan berbagai bidang seperti panggung pertunjukan, sanggar tari dan lukis untuk anak-anak, restoran, hingga area persawahan yang masih asri.
Dengan demikian, museum akan lebih bermakna bagi masyarakat. Kehadiran ruang kreatif mampu memfasilitasi sekaligus mengokohkan hubungan kontekstual antara institusi museum, masyarakat dan anak-anak.
Semua itu diharapkan mampu mengantarkan masa depan yang multidimensi, dan dinamis termasuk adanya realita kekinian, secara intensif dan berkesinambungan membangun karakter museum hidup, ujar Gung Rai.
Sedangkan bagi Samantha Aditya Putri, yang aktif dalam berbagai komunitas muda peduli museum di Yogyakarta yang juga Duta Museum Yogyakarta, selama ini museum hanya berorientasi pada objek, dan ke depan harus didorong kreatif membuat berbagai program yang dapat menarik minat anak-anak muda untuk datang ke museum.
Sementara Prof Anak Agung Bagus Wirawan lebih banyak menyinggung nilai-nilai kesejarahan, multikulturalisme dan ke-indonesia-an yang tecermin melalui museum. (WDY)
