Buleleng, Bali (ANTARA) - Bupati Buleleng, Bali, I Nyoman Sutjidra memastikan pengerjaan perbaikan kerusakan jalan kabupaten yang menghubungkan Dusun Sorga, Desa Lokapaksa dan Desa Ularan di Kecamatan Seririt sebagai upaya meningkatkan aksesibilitas masyarakat di daerah tersebut.
"Dari 15 tahun yang lalu atau bahkan lebih ya mungkin sudah 20 atau 30 tahun lalu, dari pengakuan warga sudah tidak pernah mendapatkan perawatan, sudah hancur sekali," ujar Sutjidra saat kunjungan kerja ke wilayah Buleleng bagian barat, Kamis, didampingi Wakil Bupati (Wabup) Gede Supriatna dan Sekretaris Daerah (Sekda) Gede Suyasa.
Ia mengatakan jalan tersebut menjadi prioritas utama penanganannya oleh Pemkab Buleleng, mengingat tingkat kerusakan dan medannya yang ekstrem.
Dengan kondisi yang ada, jalan ini kerap memicu kecelakaan. Warga juga mengeluh karena hasil-hasil pertanian tidak bisa maksimal diangkut secara maksimal.
“Ini menjadi masalahnya. Jadi kami anggarkan Rp2 miliar lebih untuk tahap pertama peningkatan yang difokuskan pada pengerasan badan jalan dengan hotmix,” kata Sutjidra.
Sementara itu, Perbekel (Kepala Desa) Lokapaksa Putu Dodik Tryana mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan perbaikan ini terletak pada kolaborasi yang solid antara dua desa.
Menghadapi kendala administrasi karena jalan berada di dua wilayah, Pemerintah Desa Lokapaksa dan Ularan bersinergi membuat perjanjian kerja sama dan mengajukan proposal bersama ke Pemkab Buleleng.
"Kebetulan kita dua desa sangat bagus komunikasinya. Berdasarkan itu kita buat perjanjian kerja sama desa, mengajukan proposal, dan akhirnya astungkara terwujud pengaspalan," katanya lagi.
Dia menambahkan manfaat jalan ini jauh melampaui dua desa, kini juga dinikmati oleh warga dari Desa Unggahan, Sepang, dan bahkan Pangkungparuk.
Bagi warga, perbaikan jalan ini adalah jawaban atas doa dan perjuangan puluhan tahun. Seorang warga Lokapaksa Putu Rastika atau akrab disapa Raras (34), menyatakan bahwa dalam hidupnya, baru sekarang jalan itu diperbaiki secara permanen.
"Saya dari 34 tahun sampai sekarang ini barulah terealisasi. Mungkin jalannya dibuat kurang lebih sudah 50 tahunan, nol-nol sama sekali tidak ada pengerasan," katanya pula.
Ia mengingat betapa sulitnya kondisi jalan sebelumnya untuk dilewati, bahkan jalan kaki pun berisiko terpeleset, anak-anak kesulitan ke sekolah, dan akses untuk ibu melahirkan atau mengangkut hasil bumi sangat terhambat. Terutama di musim hujan jalan berubah menjadi kubangan lumpur.
Meski pengerjaan drainase masih dilakukan secara bertahap dengan koordinasi kontraktor dan tokoh masyarakat setempat untuk mengalirkan air ke titik-titik tertentu. Peningkatan jalan ini tidak hanya sekadar perbaikan fisik, tetapi juga pemulihan akses ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Selain meninjau peningkatan jalan, Bupati Sutjidra dan rombongan juga meninjau perkembangan revitalisasi gedung SD Negeri 1 Bubunan.
Bupati Sutjidra menyoroti pembangunan sarana usaha kesehatan sekolah (UKS( di sekolah setempat yang masih memakai tanah Desa Adat. Jika tanah tersebut diserahkan kepada sekolah, harus ada berita acara penyerahan dari Desa Adat ke sekolah.
“Ya walaupun sekarang masih pinjam pakai, nanti selanjutnya bisa dihibahkan. Ini untuk menghindari konflik di kemudian hari,” kata Sutjidra lagi.
