Denpasar (ANTARA) -
Petani cabai di Denpasar, Bali, mengalihkan pertanian cabai menjadi tanaman bunga untuk kebutuhan upacara keagamaan guna menyiasati gagal panen akibat cuaca buruk.
“Kebanyakan anggota kami saat ini menanam bunga dan pandan,” kata Ketua Kelompok Wanita Tani Sumber Rejeki Peguyangan Kangin Wayan Murni di Denpasar, Bali, Kamis.
Ia menjelaskan saat ini anggotanya yang mencapai 25 orang petani itu, sebagian di antaranya mulai menanam bunga pacar air dan pandan.
Pasalnya, produksi cabai saat ini berkurang bahkan hanya bisa untuk kebutuhan sendiri karena mengalami gagal panen akibat cuaca buruk dan serangan hama yang membuat kualitas cabai menjadi turun.
Ia sendiri saat ini mengelola sekitar 30 are atau 3.000 meter persegi cabai yang sebelumnya saat cuaca normal, panen setiap 3-4 hari sekali bisa mencapai 20-25 kilogram dengan asumsi sekitar 1.000 tanaman cabai.
Cabai dari kelompoknya di pasok ke sejumlah pasar tradisional di Denpasar termasuk salah satunya di Pasar Agung Peninjoan.
Murni memperkirakan saat ini pasokan cabai di pasaran tetap melimpah karena sudah memasuki panen massal dan juga dipasok dari luar wilayah Denpasar dan Bali, sehingga mempengaruhi harga jual di tingkat konsumen yang saat ini anjlok.
Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Harga Pangan Utama dan Strategis (Sigapura) yang menghimpun data harga di 60 pasar tradisional di Bali mencatat harga cabai rawit merah di Bali rata-rata turun sebesar Rp9.700 per kilogram, dari semula pada 1 Januari 2026 mencapai Rp57 ribu menjadi Rp47.200 per kilogram pada Rabu (7/1).
