Denpasar (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan Pangan) Bali mengatakan faktor musim hujan mulai mempengaruhi kenaikan harga pada komoditas cabai rawit dan bawang merah di pasar.
Hal ini disampaikan Kepala Distan Pangan Bali Wayan Sunada di Denpasar, Kamis, merespons kondisi riil pasar sepekan terakhir dimana harga bawang merah yang biasanya di kisaran Rp30.000 - Rp40.000 per kg menjadi Rp50 ribu/kg, kemudian cabai rawit dari Rp15 ribu tiap satu per empat kg menjadi Rp25 ribu per kg.
“Sebetulnya harganya tidak mahal itu wajar-wajar saja, kalau kita lihat sekarang memang ada musim hujan dan petani agak kesulitan petik cabai,” kata dia.
“Cuaca berpengaruh, cuaca hujan petani tidak bisa petik cabai, sehari tidak bisa petik di pasar sudah bergejolak harganya, hari ini terang sudah turun harganya,” sambungnya.
Sunada mengatakan faktor musim hujan terbukti pada kondisi harga hari ini, dimana cerahnya cuaca sejak kemarin membuat harga berangsur membaik menjadi Rp47 ribu/kg untuk bawang merah dan Rp60 ribu/kg untuk cabai rawit.
“Iya karena ada sedikit musim hujan, sebentar lagi harganya normal kok, tapi jangan murah-murah banget kasihan petaninya, kalau harga cabai dan bawang merah murah semua petani kita tidak mau menanam lagi, sedangkan kalau harga Rp47 ribu bawang merah begitu itu sudah wajar masih terjangkau,” ujarnya.
Terkait potensi puncak musim hujan pada awal 2026 nanti, Distan Pangan Bali mengaku menyiapkan strategi-strategi untuk memastikan stok kebutuhan pangan itu tetap terjaga.
Utamanya langkah pemerintah daerah adalah mengawasi oknum pengepul nakal yang membuat stok terbatas atau taktik curang distributor yang membuat biaya distribusi tinggi.
Padahal, jika berbicara bawang merah maka sudah pasti produsen di Bali hanya di Kabupaten Bangli dan untuk cabai rawit di Bangli, Klungkung, Tabanan, dan Buleleng.
“Penyebabnya distribusi saja, kadang-kadang produksi yang ada di Songan (Bangli) ke Galiran (Klungkung) dulu lalu kembali ke Songan, distribusinya itu yang perlu kita awasi dan kita hampir setiap hari melakukan operasi pasar masih ada pedagang kita yang nakal yang ditindak,” kata Kepala Distan Pangan Bali.
“Taktiknya kalau panen di Buleleng ke Denpasar dulu baru lagi ke Buleleng, jadi itu yang buat mahal sengaja dibuat seperti itu yang akan diawasi,” sambung Sunada.
Untuk mengantisipasi lonjakan harga, Pemprov Bali juga mendorong masyarakat menanam di pekarangan, seperti komoditas cabai paling mudah, dimana tahun ini pemerintah telah membagikan 40 ribu bibit.
“Ayo kita tanam di rumah tidak usah banyak-banyak 10 pohon saja untuk antisipasi harga cabai naik, kita perbanyak penanaman di samping itu juga kita akan menggunakan sungkup agar bibit cabai tidak kena hujan untuk melindungi tanaman kita dan para petani sudah banyak melakukan itu,” kata dia.
Meski yang menonjol baru dua komoditas, Kepala Distan Pangan Bali melihat dampak musim hujan juga akan mempengaruhi harga pada komoditas lain seperti tomat namun belum signifikan.
