Badung (ANTARA) - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Bali meminta masyarakat menjadikan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1947 dan Idul Fitri 1447 Hijriah dengan waktu yang berdekatan sebagai anugerah.
“Perayaan hari raya yang berhimpitan ini jadikan anugerah untuk kita bisa mengendalikan diri, saling menghormati, saling menghargai, dan mencurahkan cinta kasih kepada sesama manusia,” kata Kepala Kanwil Kemenag Bali I Gusti Made Sunartha di Kabupaten Badung, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa hasil pemantauan hilal 1 Ramadhan atau awal puasa di Bali menunjukkan kemungkinan puasa dimulai pada Kamis (19/2).
Jika pemantauan hilal yang akan diulang BMKG pada Rabu (18/2) membenarkan kemungkinan tersebut, maka Idul Fitri akan jatuh pada 21 Maret 2026 atau hanya berjarak dua hari dari Nyepi.
“Ini (Februari) kan bulannya sampai tanggal 28, berarti dia akan mundur dua hari, atau Lebaran sekitar tanggal 21, sehingga tidak tepat saat Nyepi,” ucapnya.
Meski tidak tepat saat Hari Suci Nyepi, katanya, malam takbiran menyambut Lebaran nantinya bertepatan dengan Ngembak Geni atau perayaan sehari setelah Tapa Bratha Penyepian.
Kemenag Bali mengajak masyarakat menjadikan peristiwa ini waktu untuk saling menghargai dan bersuka cita.
Sunartha juga meminta tokoh agama hadir mendampingi masyarakat agar semakin rukun dalam mengatur hidup yang berdampingan di Bali.
Hari Suci Nyepi dan Idul Fitri yang berdekatan itu bukan pertama kali, namun telah beberapa kali pada tahun-tahun sebelumnya terjadi.
Bahkan, katanya, untuk kalangan Muslim lain pernah merayakan Idul Fitri tepat sehari setelah Nyepi yang berlangsung 24 jam.
Secara umum, Kemenag Bali melihat antar-umat beragama di daerah dengan sebutan "Pulau Dewata" itu, hidup harmonis.
Oleh karena persoalan agama sebagai sensitif, Sunartha mengharapkan pada tahun ini, kedua hari besar keagamaan tersebut, berjalan lancar, sedangkan apabila terjadi perselisihan agar diselesaikan secara baik-baik.
“Kejadian di suatu tempat pun bisa memicu untuk terjadi di tempat lain, kalau bisa mari kita selesaikan secara internal secara damai, komunikasikan, koordinasikan, mari kita bangun bersama-sama,” kata dia.
Kemenag Bali juga tidak menutup kemungkinan pemantauan hilal 1 Syawal nantinya tidak dilakukan oleh Provinsi Bali mengingat kemungkinan kegiatan tersebut berlangsung saat Nyepi seperti pada 2025.
