Denpasar (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali mengajukan permohonan bantuan vaksin African Swine Fever (ASF) untuk ternak babi.
“Sekarang kami minta bantuan melalui anggota dewan itu kami mengusulkan, di samping itu kami juga mengusulkan ke pemerintah pusat,” kata Kepala Distan Pangan Bali I Wayan Sunada di Denpasar, Kamis.
Sunada menyampaikan selama ini Bali belum pernah mendapat bantuan vaksin ASF di tengah banyaknya kasus ternak babi yang terserang virus di sejumlah provinsi.
Selama ini vaksin yang sudah diterima Pemprov Bali seperti vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bagi sapi yang pemberiannya masih terus berjalan.
Kemudian vaksin Lumpy Skin Disease (LSD) untuk sapi yang terkena penyakit kulit dengan bantuan vaksin dari 400 dosis hingga mendapat 6.000 dosis.
“Jadi kabupaten yang tertular LSD itu Jembrana dan Buleleng, di Jembrana itu kasusnya sampai saat ini sudah 31 ekor tapi sudah kita tangani dengan baik, sebagian kita lakukan pemotongan bersama dan sapi yang tertular sudah kami lakukan vaksinasi, kalau yang di Buleleng hanya dua ekor saja itu sudah bisa ditangani dan tidak ada lagi berkembang,” ujarnya.
Vaksin lain yang sudah diberikan ke Bali juga adalah vaksin rabies, di mana tahun 2025 dari 600 ribu ekor anjing sebanyak 85 persen lebih telah mendapat suntikan.
“Mudah-mudahan tahun 2026 ini tidak ada lagi gigitan anjing yang membuat orang meninggal, kami sekarang juga sudah melaksanakan percontohan di Bangli terkait dengan vaksinasi rabies, sekarang sedang menguji kemampuan vaksin bertahan di tubuh anjing,” kata Sunada.
Melihat belum pernah ada pemberian vaksin ASF, Distan Pangan Bali berharap bantuan tersebut segera turun terlepas dari berapa banyak yang dibutuhkan.
“Vaksin ASF untuk babi, itu jumlah yang ingin diberikan kami belum tahu tapi itu sudah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Pertanian,” ucapnya.
Di Bali sendiri saat ini tercatat hewan ternak babi populasinya mencapai 1.200 ekor, sehingga Sunada menilai idealnya Bali mendapat seribu dosis vaksin ASF untuk menjaga kekebalan babi.
Adapun penyakit yang paling umum menyerang babi adalah kolera atau diare, yang jika dibiarkan tak jarang menyebabkan kematian.
Perihal permohonan vaksin ASF sendiri sebelumnya disampaikan oleh Ketua Umum BPD HIPMI Bali Agung Bagus Pratiksa Linggih yang menyampaikan langsung keluhan para peternak babi Bali kepada Menteri Pertanian dalam acara HIPMI pada Sidang Dewan Pleno di Makassar, Minggu (15/2) lalu.
Dalam forum tersebut, Bagus Linggih menyinggung soal tidak adanya bantuan vaksin ternak, khususnya vaksin babi, padahal sapi dan ternak lainnya sudah mendapatkan vaksin jenis yang sama secara gratis.
