Denpasar (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali memperkuat deteksi dini dan edukasi kepada masyarakat terkait pneumonia pada balita agar penanganan lebih lanjut dapat segera dilakukan untuk menekan penyebaran penyakit tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali I Gusti Ayu Raka Susanti di Denpasar, Kamis, mengatakan apabila ditemukan peningkatan kasus, pemerintah siap melakukan intervensi melalui komunikasi dan penyelidikan epidemiologi guna menekan risiko penyebaran.
Seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Bali, katanya, juga sudah dinyatakan siap menangani kasus pneumonia pada balita.
Ia menjelaskan gejala pneumonia berawal dari batuk dan pilek disertai demam serta kasus dapat berkembang menjadi sesak napas jika tidak ada penanganan lanjutan.
Oleh karena itu, ia mengingatkan orang tua mewaspadai tanda bahaya penyakit itu pada balita, seperti napas lebih cepat dari biasanya atau pada bayi tampak tarikan pada cuping hidung saat bernapas.
Pneumonia pada balita, kata dia, umumnya diawali dari infeksi saluran pernapasan akut (ispa) yang berkembang. Infeksi saluran pernapasan ini sering berhubungan dengan faktor cuaca.
Oleh karena itu, ia mengimbau orang tua meningkatkan daya tahan tubuh anak dengan pemberian gizi seimbang dan vitamin, serta melengkapi imunisasi.
Dinkes Bali menemukan 155 kasus pneumonia pada balita di seluruh kabupaten dan kota di provinsi itu selama Januari 2026, sedangkan target pemerintah pusat 9.138 kasus selama tahun ini.
Ia menjelaskan pemerintah pusat memberikan estimasi temuan pneumonia pada balita di Bali mencapai 9.138 kasus, dengan target setidaknya ditemukan kasus 50 persen dari estimasi tersebut.
“Ini kan memang perkiraan, kami memang ditarget untuk menemukan kasus pneumonia pada balita, jadi tahun 2026 angka estimasi kasus pneumonia 9.138 kami harus menemukan kasus,” ujarnya.
Dari 155 kasus pneumonia sepanjang Januari, Dinkes Bali mencatat jumlah tertinggi di Tabanan 55 kasus dengan estimasi temuan setahun 3.074 kasus, disusul Klungkung dengan 44 kasus dari estimasi 172 kasus, Denpasar 34 kasus dari estimasi 1.259 kasus, dan Buleleng 22 kasus dari estimasi 744 kasus.
Ia mengatakan Kabupaten Jembrana, Badung, Gianyar, Bangli, dan Karangasem belum melaporkan temuan kasus pneumonia pada anak.
Ia menjelaskan angka 155 kasus di awal tahun ini tidak menunjukkan lonjakan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Oleh karena itu, ia mendorong rumah sakit di daerah segera melapor apabila terdapat kasus tersebut, sebab perbedaan jumlah kasus antar-kabupaten saat ini cukup mencolok.
