Denpasar (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali mencatat terjadi penurunan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Pulau Dewata sepanjang 2025.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali I Gusti Ayu Raka Susanti di Denpasar, Jumat, menyebutkan sepanjang 2025 total DBD mencapai 10.391 kasus dengan 14 kematian atau menurun dibandingkan pada 2024 mencapai 15.570 kasus, sebanyak 25 kasus di antaranya meninggal dunia.
“Kalau DBD dibandingkan 2024 itu tidak ada peningkatan. Pada 2024 justru kasus (DBD) lebih tinggi. Pada 2025 menurun, jumlah kematiannya juga (turun),” kata Kabid P2P Dinkes Bali itu.
Raka Susanti mengatakan penurunan ini karena langkah-langkah antisipasi yang dijalankan sepanjang 2025 mulai dari awal tahun di antaranyabmembuat edaran kewaspadaan ke kabupaten/kota.
Mereka juga banyak dibantu kegiatan juru pemantau jentik (jumantik) yang datang memeriksa jentik-jentik di rumah warga dan minggu depannya kembali lagi untuk evaluasi.
“Itu ternyata salah satu yang cukup bisa menggerakkan masyarakat untuk pantau jentik di rumah, lalu ada satu desa di Kabupaten Gianyar dibantu oleh LSM untuk vaksinasi demam berdarah ke 1.000 siswa karena Gianyar memang angka DBD-nya paling tinggi,” ujarnya.
Jika dirinci sepanjang 2025 kasus DBD tertinggi terjadi di Kabupaten Badung dengan 2.038 kasus, disusul Gianyar 1.972 kasus, Buleleng 1.726 kasus, Karangasem 1.518 kasus, Denpasar 1.291 kasus, Klungkung 668 kasus, Tabanan 664 kasus, Bangli 396 kasus, dan Jembrana 118 kasus.
Sementara itu, kasus kematian didominasi di Denpasar dengan empat kasus, Gianyar dan Tabanan masing-masing tiga kasus, Klungkung dua kasus, serta Buleleng dan Karangasem masing-masing satu kasus.
Meski sudah berhasil turun, Dinkes Bali menyadari jumlah kasus demam berdarah selama 2025 masih tinggi karena dipengaruhi oleh faktor kepadatan penduduk dan kebersihannya, ditambah hujan yang menyisakan genangan air dan membuat nyamuk berkembang.
Upaya menggunakan nyamuk Berwolbachia juga belum dapat dilakukan Dinkes Bali, mengingat masih banyak kontroversi penolakan dari masyarakat.
