Gianyar, Bali (ANTARA) - Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan pentingnya peran budaya dalam kebangkitan Indonesia di kancah dunia, menjadikannya sebagai pilar utama yang tak hanya menguatkan identitas nasional, tetapi juga menjadi modal utama dalam memperkenalkan Indonesia.
"Kebudayaan Indonesia bukan hanya sekadar warisan masa lalu, tetapi juga sebuah kekuatan yang mampu mendefinisikan masa depan bangsa," kata Menbud Fadli Zon, demikian siaran pers Neka Art Museum (NAM) yang diterima di Ubud, kabupaten Gianyar, Bali, Senin.
Kementerian budaya dan Neka Art Museum mengadakan kerjasama dalam bentuk diskusi bertema "Indonesian Wave versus Global Wave in Cultural Industry" yang diadakan pada, Sabtu (14/6) lalu.
Dalam diskusi tersebut tampil pembicara yakni Butet Kartaredjasa, Tubagus Andre Sukmana, Dr. Kadek Suartaya, dan Adi Lazuardi memberikan pandangan mereka mengenai langkah-langkah strategis dalam mendorong kebudayaan Indonesia ke panggung internasional.
Menbud Fadli Zon mengemukakan bukti bahwa budaya Indonesia berperan dalam budaya dunia dengan diresmikannya Taman Arkeologi Leang-Leang di Maros, Sulawesi Selatan. Di sini, lebih dari 700 lukisan purba berusia lebih dari 52 ribu tahun sebelum Masehi yang membuktikan bahwa Indonesia memiliki peradaban yang lebih tua dari piramida Mesir.
Inilah bukti konkret bahwa Indonesia adalah pusat peradaban dunia yang tak kalah pentingnya dengan peradaban-peradaban besar lainnya.
Namun, lebih dari sekadar temuan arkeologi, Taman Arkeologi Leang-Leang menjadi simbol penting dalam upaya Menteri Fadli Zon untuk menggagas "Indonesian Wave," sebuah gerakan untuk mempopulerkan kebudayaan Indonesia di mata dunia.
Menginspirasi dari fenomena budaya global seperti Korean Wave dan Japanese Wave, Menteri Fadli Zon mengajak rakyat untuk menggali kembali identitas nasional yang kuat dan mendorong Indonesia untuk mengambil posisi sebagai "superpower" budaya.
Di tengah keragaman budaya dengan 718 bahasa daerah dan lebih dari 1.340 kelompok etnis, Indonesia memiliki kekuatan budaya yang luar biasa, dan inilah saatnya untuk memanfaatkannya.
Dr. PM. Kardi Suteja, selaku inisiator forum, menekankan bahwa kunci untuk menjaga kelestarian budaya ada pada peran generasi muda.
"Generasi muda, sebagai penerus kebudayaan, harus kembali ke akar budaya (back to heritage) dan memperkuat serta melestarikan nilai-nilai luhur leluhur. Mereka harus bisa beradaptasi dengan globalisasi dan memanfaatkan efek positif dari budaya global untuk memperkuat identitas lokal," katanya.
Namun, dalam perjalanan menuju ekspansi budaya ini, ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi. Tubagus Andre Sukmana mengingatkan bahwa masuknya pengaruh budaya global ke dalam budaya lokal harus melalui proses yang hati-hati: akulturisasi, asimilasi, difusi, dan modernisasi. Proses-proses ini, jika dijalankan dengan bijaksana, dapat memperkaya kebudayaan Indonesia tanpa mengurangi nilai-nilai dasarnya.
Butet Kartaredjasa juga menyoroti pentingnya pemisahan antara seni budaya untuk ekspresi artistik dan seni budaya untuk tujuan komersialisasi. Dalam hal ini, seni budaya Nusantara tidak perlu lagi dihadapkan pada klaim "go international" karena dunia seni Indonesia sudah menjadi bagian dari panggung internasional itu sendiri.
Sementara itu, Dr. Kadek Suartaya, seorang akademisi seni pertunjukan, menyoroti sejarah panjang seni budaya Indonesia yang sudah diakui dunia, dari penampilan Sekehe Tari dan Gong Peliatan di Paris pada 1931, hingga partisipasi Indonesia dalam pameran seni internasional seperti New York Art Fair 1960 dan Expo Osaka 1970. Bali, dengan segala kekayaan seni dan budayanya, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat dari Indonesian Wave ini, dan sekaligus menjadi "lokomotif" yang menggerakkan kebudayaan Indonesia ke dunia global.
Adi Lazuardi, seorang jurnalis, mengungkapkan pentingnya peran para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebagai agen budaya yang membawa Indonesia ke dalam kehidupan sehari-hari di luar negeri.
Dari Hongkong hingga Arab Saudi, mereka menjadi duta kebudayaan Indonesia yang dapat memperkenalkan berbagai aspek budaya, seperti seni rupa, tari, musik, dan kuliner, meski Indonesia memiliki begitu banyak keragaman dan kesulitan untuk memilih satu ikon budaya tunggal. Bali, dengan kombinasi seni rupa, tari, musik, dan pakaian, dianggap sebagai ikon yang paling mudah diterima oleh dunia global.
Forum ini mengarah pada kesimpulan penting yang disampaikan oleh PM. Kardi Suteja. Budaya Indonesia harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda, yang pada gilirannya akan menjaga dan mengokohkan budaya lokal agar kuat dalam menghadapi globalisasi. Setelah generasi muda memiliki pemahaman dan apresiasi yang cukup terhadap kekayaan budaya, mereka harus siap untuk membawa kebudayaan Indonesia ke pentas dunia, mengeksport nilai-nilai luhur Nusantara yang dapat memberikan kontribusi besar dalam memperkaya budaya global.
Indonesian Wave bukan sekadar gelombang budaya yang ingin melambungkan nama Indonesia, tetapi sebuah perjalanan panjang untuk mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat kebudayaan dunia yang diakui dan dihormati. Dengan langkah-langkah strategis dan sinergi antara budaya lokal dan global, Indonesia dapat mewujudkan potensi budaya yang tak ternilai harganya dan membawa nama bangsa ke dunia internasional.
