Gianyar, Bali (ANTARA) - Neka Art Museum (NAM) menggelar pameran lukisan karya maestro Arie Smit, pada 19 Juli hingga 19 Agustus 2025 bertemakan Cahaya Puitis yang akan membawa pecinta lukisan untuk menyelami dunia sang maestro, dan merasakan cahaya dan warna yang dilukiskan di atas kanvas.
"Neka Art Museum memiliki 50 lukisan Arie Smit. Pameran kali ini menampilkan lukisan-lukisan sang maestro tentang tanaman, bunga dan keindahan alam di Bali yang sudah menjadi rumah bagi Arie Smit," kata Direktur NAM PM Kardi Suteja saat membuka pameran di Ubud, Gianyar, Sabtu.
Lukisan-lukisannya, yang dipamerkan dalam tiga tema utama yakni "Membingkai Perdu dan Bunga", "Lukisan Selingkung Bali", dan "Semesta Panorama" yang menunjukkan kedalaman rasa yang hanya bisa dicapai oleh seorang seniman yang sepenuhnya hidup dalam cahaya.
Direktur NAM menegaskan,” Poetic Light" adalah warisan yang tak hanya hidup di dalam lukisan, tetapi juga dalam prinsip yang menjunjung tinggi keaslian, integritas, dan tanggung jawab terhadap sejarah seni.
Kurator sekaligus penulis buku Arie Smit, Agus Dermawan T menambahkan, "Lewat karya-karya ini, Arie mengajarkan kita bahwa seni sejati bukanlah tentang kekayaan material, tetapi tentang kejujuran, keterhubungan dengan alam, dan keberanian untuk mencintai tanah yang kita pilih sebagai rumah,”.
Kini, setiap goresan warna Arie Smit bukan hanya menerangi dunia seni rupa, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan nilai-nilai kemanusiaan dan keindahan yang tak lekang oleh waktu. Sebagaimana Arie Smit pernah berkata dengan lembut pada Gunung Agung setiap pagi, ujar Agus.
Arie Smit, lahir pada 15 April 1916 di Zaandam, Belanda, datang ke Indonesia sebagai tentara KNIL. Ia belajar melukis di kota Rotterdam, Belanda.
Setelah perang selesai, Arie yang jatuh cinta pada Indonesia kembali datang dengan membawa alat lukis dan kanvas. Tahun 1956, Arie Smit datang ke Bali, menjadi warga Gianyar, Indonesia dan melahirkan begitu banyak lukisan.
Tak hanya membuat lukisan, ia mengajarkan cara melukis pada anak-anak di Desa Penestanan dan sekitarnya di Ubud.
Kemudian Arie Smit mendirikan sanggar melukis Young Artist dan melahirkan banyak pelukis yang karyanya mendunia.
"Arie membawa karya lukisan anak-anak Desa Penestanan, Ubud ke panggung dunia, memperkenalkan Bali dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya," kata Kardi Suteja.
Meskipun hidupnya penuh pergolakan, Arie menemukan ketenangan dan keindahan dalam kesederhanaan alam Bali yang kemudian menjadi panggung utama karyanya, kata Direktur NAM PM Kardi Suteja.
"Bali, pulau yang memberinya rumah dan inspirasi, menjadi tempat di mana seni Arie Smit bertransformasi. Ia pun meninggal di Ubud, pada 23 Maret 2016, tiga minggu sebelum berusia 100 tahun," tutur dia.
Suteja Neka pendiri NAM (Neka Art Museum) sekaligus sahabat Arie Smit pada tahun 1994, mendirikan Paviliun Arie Smit di Neka Art Museum (NAM) sebagai penghormatan terhadap karya sang maestro.
Pewarta: Adi LazuardiEditor : Widodo Suyamto Jusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2026