Denpasar (ANTARA) - BUMN pengelola kawasan wisata the Nusa Dua, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) memastikan kawasan pesisir di wilayah tersebut aman saat viral kemunculan hiu yang diperkirakan berkarakter jinak.
“Kami belum menemukan adanya situasi yang menimbulkan kepanikan maupun laporan yang meresahkan,” kata General Manager ITDC Nusa Dua I Made Agus Dwiatmika dikonfirmasi di Denpasar, Minggu.
Menurut dia, ITDC bersama Kepolisian Air dan Udara (Polairud) dan Balawista melakukan pemantauan dan pengecekan secara berkala di area pantai secara rutin guna memastikan area aman dan nyaman bagi wisatawan.
Meski begitu, ia belum memastikan jenis ikan hiu tersebut karena objek terlihat jauh dari bibir pantai. Sebelumnya viral di media sosial, mobilitas sejumlah ikan diduga hiu yang diperkirakan jenis sirip hitam di perairan Nusa Dua.
Ia menambahkan fenomena serupa pernah terjadi pada 2013 dan 2019, dengan kemunculan hiu jenis blacktip yaitu ikan hiu karang sirip hitam.
“Jenis ikan hiu tersebut cenderung pemalu, menghindari manusia dan tidak berbahaya, terlihat mendekati perairan pantai karena mengikuti jalur plankton dan pergerakan ikan kecil,” kata dia, seraya mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tetap tenang dan tidak panik berlebihan.
Sementara itu, berdasarkan data Shark Research Institute yang bermarkas di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat mencatat di perairan dunia terdapat lebih dari 400 jenis hiu.
Apabila jenis hiu yang berenang hingga pesisir Nusa Dua itu adalah karang sirip hitam, menurut lembaga tersebut jenis hiu itu memiliki karakter yang hidup di perairan karang yang dangkal.
Hiu itu kerap mendekat saat ada penyelam namun bisa dengan mudah diusir menjauh.
Shark Research Institute juga menjelaskan ikan yang berwarna abu-abu kecoklatan itu memiliki ukuran panjang diperkirakan hingga 1,6 meter untuk dewasa.
Hiu jenis tersebut memiliki habitat di perairan tropis Indo-Pasifik dan terdistribusi Pasifik Barat dan Samudera Hindia dengan makanan utamanya adalah ikan kecil dan plankton.
Pewarta: RedaksiEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026