Singaraja (Antara Bali) - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Upakara Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan Singaraja, Bali, memasarkan "Banten Saraswati" melalui jejaring sosial "facebook" sebagai upaya melatih jiwa wirausaha sejak dini.
"Kebetulan, Sabtu (21/1) merupakan hari raya Saraswati atau hari turunnya ilmu pengetahuan. Jadi, kami coba menjual Banten Saraswati bersama dengan mahasiswa. Hingga saat ini pesanan mencapai 1.000 banten lebih," kata Ketut Agus Nova, SFilH MAg, pembina UKM Upakara STAHN Mpu Kuturan di Singaraja, Jumat.
Ia mengatakan, selain melatih jiwa wirausaha sejak dini, penjualan banten saraswati secara online tersebut juga berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai makna filosofis dan banten saraswati tersebut.
STAHN Singaraja, kata dia, sebagai salah satu perguruan tinggi agama di Pulau Dewata sudah barang tentu juga memiliki tanggung jawab memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai makna dan fungsi banten saraswati.
Agus Nova menjelaskan, banten saraswati merupakan sarana upacara sebagai simbol wujud cinta bhakti umat Hindu utamanya pada pelajar kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Dewi Saraswati simbol ilmu pengetahuan.
Banten saraswati biasanya dihaturkan di Taksu atau tempat suci lain, kadang kala banten diletakkan di atas buku. Hal tersebut mencirikan jika dengan pengetahuan yang turun di sudah mendapatkan pengucian.
"Satu buah banten saraswati dijual dengan harga Rp5 ribu rupiah termasuk ongkos kirim ke seluruh wilayah Kota Singaraja dan sekitarnya," jelasnya.
Ia berpendapat, masyarakat sangat mendukung kegiatan tersebut, terlebih lagi dilakukan oleh sebagian besar mahasiswa yang notabene anak muda. Bukan hanya itu saja, masyarakat mendapatkan banten dengan cepat dan cara pesan mudah. Terjangkau waktu dan tenaga.
"Kami sampai kewalahan memenuhi pesanan. Kami sempat batasi memenuhi pesanan karena kasian juga mahasiswa terlalu berat mereka. Sedangkan harus belajar juga kan," tambahnya.
Sementara itu, Kadek Devia, salah satu warga Kota Singaraja mengaku sudah memesan banten saraswati mahasiswa STAHN Mpu Kuturan. "Saya sudah pesan lewat `facebook` jadi tidak perlu ke pasar lagi. Harganya pun terjangkau yakni Rp5000 saja," kata dia.
Devia berharap semakin banyak anak muda Hindu melirik usaha jual beli banten. Dewasa ini ibu-ibu di perkotaan jarang mendapatkan waktu membuat banten, jarang pula punya waktu membeli ke pasar. Cara jejering sosial dinilai sebagai salah satu alternatif terbaik. (WDY)
