Buleleng, Bali (ANTARA) - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali merancang konsep widyalaya atau sekolah umum bercirikan agama Hindu terintegrasi dengan pasraman atau pendidikan keagamaan Hindu.
"Saat ini tim kami sedang menyusun kajian akademiknya. Intinya adalah lembaga pendidikan tersebut nantinya dalam menguatkan bukan hanya spiritualitas peserta didik, tetapi kemampuan penguasaan ilmu dan intelektual yang berkembang di era global saat ini," kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali I Gusti Made Sunartha, di Buleleng, Bali, Minggu.
Menurut dia, lembaga pendidikan Hindu saat ini sudah eksis di Pulau Dewata. Ke depan harus berfokus pada pengembangan SDM yang mampu bersaing di era global saat ini.
Generasi Hindu yang dimaksud adalah dia yang menguasai keilmuan terutama STEM yakni pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan empat bidang utama, yaitu Science (Sains), Technology (Teknologi), Engineering (Rekayasa), dan Mathematics (Matematika) dalam satu kesatuan pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif.
Pihaknya menilai upaya membangun sumber daya manusia (SDM) Bali yang unggul, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan terus diperkuat melalui pengembangan sekolah Widyalaya yang terintegrasi dengan Pasraman.
Konsep ini dipandang strategis karena menggabungkan pendidikan formal dengan penguatan spiritual, etika, dan budaya lokal Bali.
Secara teknis, integrasi tersebut dirancang melalui penyelarasan kurikulum antara Widyalaya sebagai satuan pendidikan formal dan Pasraman.
"Penyelarasan ini memungkinkan peserta didik memperoleh kompetensi akademik sekaligus pemahaman mendalam tentang ajaran agama Hindu, nilai dharma, dan kearifan lokal Bali, mampu menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan sehingga mewujudkan generasi yang cerdas dan berkarakter," papar dia.
Dari sisi program, Kemenag Provinsi Bali mendorong pengembangan Widyalaya Terpadu melalui peningkatan kapasitas guru, penguatan manajemen kelembagaan, serta penyediaan regulasi yang mendukung kolaborasi Widyalaya dan Pasraman. Guru Widyalaya juga diarahkan memiliki kompetensi pedagogik dan spiritual yang seimbang dan mampu mengintegrasikan pembelajaran dengan STEM.
"Terlebih saat ini sudah turun perubahan Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2024 tentang penyelenggaraan pendidikan widyalaya sehingga pemerintah melalui kementerian agama bisa mendirikan widyalaya negeri dan juga program penegerian dari sebelumnya berstatus swasta," kata dia.
Lebih jauh, Sunartha menilai dalam aspek tata kelola, Kemenag Provinsi Bali mendorong sinergi antara pemerintah, yayasan, desa adat, dan umat Hindu. Kolaborasi ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan program, baik dari sisi pendanaan, pengelolaan, maupun pengawasan mutu pendidikan.
Kakanwil menambahkan Widyalaya terintegrasi Pasraman juga diarahkan menjadi pusat pembinaan karakter dan budaya Bali. Peserta didik tidak hanya dipersiapkan untuk unggul secara akademik, tetapi juga memiliki identitas budaya yang kuat dan sikap moderat dalam kehidupan beragama.
Pihaknya juga berharap seluruh pemangku kepentingan dapat berperan aktif dalam menyukseskan integrasi Widyalaya dan Pasraman.
Menurutnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi dari lahirnya generasi Hindu Bali yang cerdas, berkarakter, dan berkontribusi bagi pembangunan daerah.
