Denpasar (ANTARA) - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali mencatat laba bersih pada 2025 menembus Rp1,1 triliun atau melonjak 25,39 persen dibandingkan realisasi 2024 mencapai Rp878,4 miliar.
“Kenaikan laba itu bersumber dari pertumbuhan kredit sebesar 9,51 persen,” kata Direktur Utama Bank BPD Bali I Nyoman Sudharma di sela-sela Financial Review 2025 di Denpasar, Bali, Selasa.
Dari realisasi laba bersih itu, pihaknya telah membagikan dividen sebesar Rp826 miliar masuk kas daerah kepada pemegang saham yang merupakan pemerintah daerah di Pulau Dewata untuk kepentingan pembangunan dan kepentingan rakyat.
Pembagian dividen itu diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang diselenggarakan Selasa.
Selain bersumber dari pertumbuhan kredit, perolehan laba juga dikontribusikan oleh pendapatan non kredit di antaranya pendapatan selain bunga (fee base income) hingga efisiensi biaya bunga dan dana pihak ketiga (DPK).
Sudharma mencatat realisasi kredit selama 2025 mencapai Rp25 triliun, sebanyak Rp12,7 triliun di antaranya disalurkan untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan didukung penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp1,76 triliun.
“Komposisi kredit produktif Januari-Desember 2025 itu 60,04 persen adalah kredit produktif, sisanya 39,96 persen adalah konsumtif,” ucapnya.
Sedangkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di bank pelat merah itu juga tergolong minim yakni mencapai 0,80 persen pada 2025.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) yang dikumpulkan mencapai Rp33,8 triliun, dengan rasio sebesar 69,09 persen merupakan dana murah (CASA).
Realisasi itu menjadikan bank BUMD itu tergolong sehat didukung total aset naik 8,01 persen secara tahunan mencapai Rp41,38 triliun, rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 29,30 persen, serta rasio biaya operasional (BOPO) yang dapat ditekan menjadi 62,42 persen dibandingkan tahun sebelumnya mencapai 66,85 persen.
Selama Tahun Buku 2025, pihaknya mendapatkan setoran modal sebesar Rp473 miliar sehingga modal setor hingga 31 Desember 2025 mencapai total Rp2,88 triliun dengan modal inti sebesar Rp5,39 triliun.
