Denpasar (Antara Bali) - Subsektor tanaman pangan di Bali dalam membentuk nilai tukar petani (NTP) pada bulan April 2016 kembali mengalami penurunan sebesar 1,73 persen dari 98,04 persen pada bulan Maret 2016 menjadi 96,43 persen.
"Tanaman pangan yang meliputi padi dan palawija (NTP-P) masih berada di bawah nilai 100 yang berarti nilai yang diterima petani dari hasil pertanian tanaman pangan tidak mampu mencukupi kebutuhan konsumsi rumah tangga dan menutupi biaya produksi," kata Kepala Bidang Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Nyoman Subadri di Denpasar, Kamis.
Ia mengatakan, indeks harga yang diterima petani (lt) pada subsektor tanaman pangan turun 2,16 persen. Kemerosotan nilai tersebut terjadi pada kelompok padi sebesar 3,16 persen.
Kendatipun terjadi kenaikan pada kelompok palawija sebesar 0,53 persen, dan di sisi lain indeks harga yang dibayar petani (lb) tercatat mengalami penurunan 0,44 persen.
Subadri menambahkan, menurunnya indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi oleh merosotnya indeks harga konsumsi rumah tangga (IHKP) sebesar 0,53 persen.
Sementara harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di Bali pada bulan April 2016 mengalami penurunan sebesar 7,66 persen, dibandingkan bulan sebelumnya, Maret 2016.
Demikian pula harga gabah di tingkat penggilingan juga menurun 7,49 persen. Meskipun harga gabah di Bali mengalami penurunan, namun kondisi itu jauh di atas harga patokan pemerintah (HPP).
Hasil pencatatan harga gabah yang dilakukan ditujuh kabupaten yang meliputi Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung, Karangasem dan Buleleng menunjukkan harga gabah di tingkat petani turun dari Rp4.401,26 per kilogram pada bulan Maret 2016 menjadi Rp4.063,96 per kg pada bulan April 2016.
Sementara rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat penggilingan juga merosot dari Rp4.467,46/kg pada bulan Maret 2016 kini menjadi Rp4.132,72 per kilogram pada bulan April 2016.
Nyoman Subadri menambahkan, subsektor tanaman pangan merupakan salah satu dari lima subsektor yang menentukan pembentukan NTP Bali. Dari lima subsektor tersebut tiga di antaranya mengalami penurunan dan dua subsektor mengalami kenaikan.
Ketiga subsektor yang mengalami penurunan selain tanaman pangan juga subsektor peternakan 0,38 persen dan subsektor perikanan 0,16 persen.
Sementara dua subsektor yang mengalami kenaikan meliputi subsektor perkebunan sebesar 1,23 persen hortikultura 0,80 persen, ujar Nyoman Subadri. (WDY)
