Badung (ANTARA) - Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bali meminta pengelola daya tarik wisata (DTW) atau objek wisata alam melakukan penataan dengan memangkas pohon-pohon yang rawan roboh saat musim hujan menyusul kejadian pohon tumbang di DTW Alas Pala Sangeh atau Sangeh Monkey Forest.
“Menyangkut cuaca yang ekstrem dan musim hujan yang mulai turun kami sudah menyampaikan kepada pelaku usaha maupun pemerintah daerah agar memperhatikan segala sesuatu,” kata Kepala Dispar Provinsi Bali I Wayan Sumarajaya di Kabupaten Badung, Jumat.
“Mitigasi risiko seperti pemangkasan dahan-dahan pohon dan sebagainya, itu kan sudah kita imbau ada surat edarannya,” sambung Wayan Sumarajaya.
Memasuki musim hujan akhir tahun ini, Dispar Provinsi Bali melihat potensi bencana bisa terjadi di mana saja, sementara bersamaan dengan itu kunjungan wisatawan juga meningkat.
Untuk itu, menurut dia, arahan mitigasi menjadi relevan, apalagi pengelola objek wisata dan pemerintah daerah setempat biasanya lebih paham soal kondisi wilayahnya masing-masing sehingga bisa menentukan langkah terbaik.
“Kalau pemangkasan pohon mungkin bisa kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan sebagainya, agar bisa dimitigasi,” ucapnya.
Kejadian pohon tumbang di Sangeh Monkey Forest yang memakan korban jiwa seorang petugas sendiri sangat ia sayangkan.
Diketahui pohon tumbang di objek wisata tersebut terjadi pada Rabu (3/12). Saat itu sedang terjadi cuaca ekstrem yang membuat pohon pala raksasa tumbang dan mengenai petugas berinisial IBNS dan INR, namun naas IBNS ditemukan meninggal dunia.
Sumarajaya tak mempermasalahkan keputusan pengelola menutup DTW tersebut selama seminggu. Menurut dia, sebaiknya persoalan diselesaikan agar ketika buka kembali DTW sudah siap.
“Sesuatu itu ada positif negatifnya kalau memang sampai jelas dulu persoalannya seperti apa, kami pasti menyayangkan ada hal seperti itu tapi kita coba untuk meminimalkan,” kata Kepala Dispar Bali itu.
Ia juga akan berkoordinasi dengan Pemkab Badung atau pengelola DTW untuk memastikan hak-hak pekerja pariwisata yang menjadi korban, serta mencari tahu langkah selanjutnya di wisata alam tersebut.
