Jembrana, Bali (ANTARA) - Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) merevitalisasi ikon pariwisata Green Cliff di Kabupaten Jembrana, Bali, untuk mendukung pengelolaan kawasan hutan berkelanjutan.
“Melalui program Perhutanan Sosial, kami ingin menunjukkan pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat tidak harus berjalan terpisah,” kata Manager Komunikasi, Relasi dan TJSL Pertamina Patra Niaga Wilayah Jatimbalinus Ahad Rahedi, di Jembrana, Bali, Selasa.
Ada pun program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) di Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo tersebut dilaksanakan oleh unit operasi BUMN itu, yakni Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU/AFT) Ngurah Rai.
Menurut dia, pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi bisa saling memperkuat ketika dijalankan dengan pendekatan kolaboratif, berbasis potensi lokal, dan menghormati kearifan budaya setempat.
Upaya itu dilaksanakan melalui optimalisasi usaha agroforestri, budi daya lebah ramah lingkungan, pendampingan unit usaha desa dalam pengelolaan air bersih berkelanjutan dan pengembangan unit usaha jasa lingkungan berbasis nilai budaya.
Pihaknya juga melakukan penandatanganan kesepakatan penanggung jawab pengelolaan Green Cliff antara AFT Ngurah Rai dengan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Jasa Lingkungan Banu Sejahtera-Kelompok Tani Hutan (KTH) Banu Giri Lestari.
Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan mengapresiasi dukungan guna memajukan perekonomian khususnya di Desa Yehembang Kangin.
Pengelolaan hutan berbasis masyarakat, kata dia, dapat diwujudkan melalui sinergi semua pihak demi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan berkelanjutan.
“Kami harus mulai dengan doa dan niat tulus agar Green Cliff bisa berkembang. Kami siap memadukannya dengan pengembangan anjungan cerdas Rambut Siwi sebagai bagian dari pariwisata lokal,” ujarnya lagi.
Sedangkan dari sisi potensi desa, menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Kawasan Pengelolaan Hutan (UPTD KPH) Bali Barat Agus Sugiyanto, Desa Yehembang Kangin memiliki potensi alam di antaranya sumber mata air melimpah yang memasok air baku dan kebutuhan air irigasi.
Sebagai langkah awal revitalisasi, dalam kesempatan itu diadakan Ngeruwak, yakni upacara memulai pembangunan baru sesuai tradisi Hindu di Bali.
Tidak hanya itu, juga dipamerkan produk UMKM Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) produksi KTH Banu Giri Lestari dan penanaman pohon yang hasilnya nanti digunakan untuk kebutuhan upacara keagamaan.
Dalam kesempatan itu, juga hadir Ketua DPRD Kabupaten Jembrana Ni Made Sri Sutharmi, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali I Made Rentin serta tokoh masyarakat setempat.
