"Dalam kesempatan ini kami menyalurkan bantuan sementara dari Gubernur Bali berupa uang tunai dan beras. Untuk selanjutnya, tim akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait," kata Kepala Bagian Publikasi Biro Humas Pemprov Bali Adi Mastika, di sela-sela menyerahkan bantuan tersebut, di Desa Jungutan, Amlapura, Selasa.
Menurut Adi, gerakan responsif dari Pemprov Bali ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat mampu terhadap sesama yang membutuhkan.
Pekak (kakek) Manta hidup dengan kondisi sangat sederhana bersama anaknya I Wayan Santa (30) di gubuk dengan dinding anyaman bambu yang sudah reot.
Gubuk satu-satunya tersebut dimanfaatkan untuk segala aktivitas sehari-hari, memasak dan tidur jadi satu dalam gubuk 2x3 meter tersebut. Bahkan untuk tidur, bapak dan anak itu pun harus berhimpitan dalam satu ranjang seadanya yang terbuat dari bambu berukuran 1x1,5 meter yang sangat memprihatinkan.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Pekak Manta bersama anaknya menggantungkan hidup dari penjualan madu hasil ternak lebah. Walaupun madu tergolong mahal, namun hasil yang di panen tidak menentu karena cara beternak mereka yang masih tradisional dengan alat seadanya.
Tidak hanya berdiam diri sebatas itu, ia pun beternak dua ekor sapi. Lokasi rumah mereka yang terisolir dan terpencil di lereng Gunung Agung, membuatnya keduanya semakin sulit terjangkau oleh segala kemajuan.
Pada malam hari hanya mengandalkan lampu sentir sebagai penerangan. Bahkan untuk kartu identitas dan kartu keluarga pun baru dimiliki beberapa bulan terakhir ini. Hal tersebutlah yang menjadi kendala dirinya memperoleh bantuan-bantuan resmi pemerintah, seperti Jaminan Kesehatan Bali Mandara dan bantuan bedah rumah.
Manta sangat berharap bisa mendapatkan bantuan bedah rumah dan saking besar harapannya, ia pun mengaku bersedia sebagian lahan yang ditempatinya saat ini ditukar dengan lahan milik warga lain sebagai lokasi bantuan bedah rumah agar dekat dengan pemukiman warga.
"Seandainya saya nanti memang benar-benar dapat bantuan bedah rumah, saya mau tukar lahan ini dengan lahan lain yang dekat dengan pemukiman warga biar lebih ramai," katanya.
Hal tersebut dibenarkan Kepala Dusun Galih, Wayan Lunga, yang saat itu ikut mendampingi tim meninjau lokasi.
Menurut dia, Pekak Manta dan anaknya akhirnya bisa memiliki KTP dan KK setelah dirinya turun langsung melakukan pendataan ke lokasi rumah-rumah warganya.
Oleh karena belum memiliki kedua kartu identitas itulah, sehingga Manta sebelumnya tidak masuk database KK miskin.
Namun, pada akhir tahun 2015 sebanyak 41 warganya yang masuk sebagai KK miskin termasuk keluarga Pekak Manta sudah mendapat verifikasi ulang dari Bappeda Kabupaten Karangasem. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Ni Luh Rhismawati: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026