Singaraja (Antara Bali) - Kalangan masyarakat di Desa Baktiseraga, Kabupaten Buleleng, Bali memangkas pohon perindang menjelang pawai ogoh-ogoh (patung raksasa) serangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1938.
"Pemangkasan bertujuan menjaga kelancaran rute pengarakan ogoh-ogoh di wilayah Desa Baktiseraga, Kota Singaraja," kata Kepala Desa Baktiseraga Gusti Putu Armada di Singaraja, Senin.
Ia menjelaskan, puluhan warga masyarakat bersama muda-mudi dilibatkan dan bekerja sama untuk membersihkan lingkungan di salah satu wilayah terdapat di Kota Singaraja tersebut.
Dikatakan pula, pihalnya memangkas pohon-pohon perindang berukuran besar di pinggiran jalanan. Tujuannya meminimalisir kemacetan alur jalan di malam pengerupukan ogoh-ogoh.
Armada menambahkan, pada hari "pengerupukan" atau malam pawai ogoh-ogoh diisi arak-arakan ogoh-ogoh dilakukan, Selasa (8/3), dan kemudian perayaan Nyepi Tahun Caka 1938, Rabu (9/3).
Umat Hindu se-dharma, termasuk di wilayah Baktiseraga, kata dia, diharapkan bersama-sama menjaga ketertiban dan keamanan di masyarakat. "Kami melihat antusiasme tinggi warga di Baktiseraga," imbuhnya.
"Menjelang pengerupukan dan Nyepi, jadi ogoh-ogoh yang mau melintas diarak supaya tidak terganggu. Maka kami bergotong royong memangkas dahan pepohonan di sepanjang jalanan," ujar Armada,
Selain itu, ia menambahkan, pengarakan ogoh-ogoh berukuran kecil maupun besar keseluruhan di Desa Baktiseraga berjumlah delapan buah. "Di wilayah Desa Baktiseraga ada empat dusun, Bangkang, Tista, Seraya, dan Galiran, dengan tiga Desa Adat yakni Bangkang, Tista, dan Galiran. Seluruh muda-mudi bersinergi bergotong royong di tempat titik dusun, mereka sekaligus menyatukan kebersamaan jelang momentum pengerupukan tahun ini," tandasnya. (WDY)
