Denpasar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat ekonomi Bali pada triwulan III 2025 mengalami pertumbuhan positif dengan lapangan usaha terkait pariwisata masih mendominasi.
Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Rabu, membeberkan data di mana triwulan III ini Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali atas dasar harga konstan sebesar Rp44,90 triliun.
Sementara pada triwulan II 2025 PDRB Bali Rp44,75 triliun dan triwulan III 2024 Rp42,40 triliun, sehingga ekonomi Bali tercatat tumbuh jika disandingkan secara kuartal ke kuartal maupun tahun ke tahun.
“Jadi kalau dibandingkan dengan triwulan II ekonomi Bali tumbuh 0,34 persen, dan tahun ke tahun membandingkan dengan triwulan III 2024 tercatat tumbuh 5,88 persen atau PDRB Rp44,90 triliun,” ucap Agus Gede.
“Secara kumulatif ekonomi Bali triwulan I sampai III 2025 dibanding periode yang sama 2024 itu juga tercatat tumbuh 5,81 persen, sebuah angka yang cukup impresif dan sama seperti sebelumnya pertumbuhan kita lebih tinggi dibanding kondisi nasional,” sambungnya.
Meski menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang baik, BPS Bali mengakui pergerakan pertumbuhan dari triwulan II ke triwulan III melambat yaitu hanya 0,34 persen tadi, di mana menurut mereka ini dipengaruhi pola musiman pariwisata tahunan.
“Triwulan III cenderung melambat dibanding triwulan II, triwulan II biasanya puncak ekonomi Bali kemudian melambat di triwulan III dan sedikit peningkatan di triwulan IV seperti pola pariwisata kita karena kita dasarnya adalah pariwisata,” ujar Agus Gede.
BPS Bali kemudian membedah lapangan usaha yang menjadi struktur pendongkrak PDRB Bali, dan pada triwulan III kembali ditemukan bahwa pariwisata belum bisa tergantikan lewat lapangan usaha akomodasi dan makan minum.
Dalam struktur ekonomi Bali, lapangan usaha akomodasi dan makan minum masih mendominasi dengan kontribusi 23,07 persen, diikuti pertanian 12,95 persen, transportasi dan pergudangan 10,48 persen, seterusnya hingga terkecil pengadaan air dengan 0,15 persen.
“Meski secara posisi tidak berubah, namun kalau lihat dari besaran kontribusinya, lapangan akomodasi dan makan minum makin mendominasi, karena kita lihat pertumbuhannya paling tinggi, sudah besar dalam struktur, tumbuhnya juga paling tinggi maka nilainya makin besar,” kata Agus Gede.
Untuk pertumbuhannya sendiri pada triwulan III ini akomodasi dan makan minum tumbuh 11 persen atau tertinggi, disusul jasa perusahaan yang tumbuh 9,74 persen, dan jasa pendidikan tumbuh 9,39 persen.
“Jadi yang dominan pariwisata tumbuh impresif, lapangan usaha akomodasi dan makan minum tumbuh 11 persen di beberapa tahun terakhir, ekonomi Bali pulih dibantu sektor ini, seiring dengan kembali pulihnya jumlah wisman dan wisnus,“ kata dia.
Kepala BPS Bali berani menyebut dominasi pariwisata juga setelah melihat bahwa jasa perusahaan yang mengalami pertumbuhan tertinggi kedua ternyata dipengaruhi aktivitas biro dan agen perjalanan wisata yang mengalami peningkatan permintaan jasa.
Dengan demikian maka BPS Bali menemukan bahwa dari pertumbuhan ekonomi triwulan III 5,88 persen atau Rp44,90 triliun itu diperoleh sumbernya 2,14 persen dari akomodasi dan makan minum, tak jauh berbeda dengan triwulan sebelumnya.
