Tabanan, Bali (ANTARA) - Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menegaskan pentingnya menjaga eksistensi Jatiluwih sebagai destinasi wisata unggulan berbasis alam dan budaya.
"Jatiluwih telah dikenal luas di dunia sebagai destinasi dengan pemandangan alam pegunungan yang asri, keunikan sawah berundak, serta sistem irigasi tradisional Subak yang luar biasa," kata dia saat membuka Festival Jatiluwih VI/2025 di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, Sabtu.
Dia menjelaskan Festival Jatiluwih bukan sekadar perayaan budaya, tetapi bentuk nyata promosi potensi lokal yang mengangkat tradisi, budaya, dan kuliner khas Desa Jatiluwih.
Bahkan, ia mengatakan, Subak Jatiluwih telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia sejak 6 Juli 2012. Di penghujung 2024, Desa Wisata Jatiluwih juga meraih tiga penghargaan prestisius, yakni Best Tourism Village dari UNWTO, sertifikat desa wisata berkelanjutan dari Kemenparekraf, serta penghargaan desa wisata digital friendly dari ajang Dewiku.
"Saya mendorong agar Jatiluwih tetap aktif dipromosikan melalui media sosial dan kegiatan festival, guna menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara," katanya.
Festival kali ini mengusung tema “Growth with Nature” atau “Tumbuh Bersama Alam”, yang menurut Bupati Sanjaya sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, menjaga harmoni antara manusia dan alam.
“Tema ini pada dasarnya juga dapat dimaknai sebagai sebuah upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan visi kita yaitu, Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui pola pembangunan semesta berencana menuju Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani (AUM). Saya ingin menjadikan visi ini sebagai kiblat atau arah pembangunan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Tabanan,” katanya.
Ia berharap, ke depan dapat diselenggarakan kegiatan pariwisata bertaraf internasional di Jatiluwih yang mampu menarik lebih banyak wisatawan asing.
Ia juga meminta badan pengelola DTW Jatiluwih terus berinovasi dan menciptakan terobosan strategis, namun tetap menjaga identitas Jatiluwih sebagai pariwisata berbasis pertanian dan budaya.
Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan Rai Wahyuni Sanjaya memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan festival yang inspiratif.
Ia menilai festival ini mampu membangkitkan semangat masyarakat, khususnya perempuan dan generasi muda, dalam menjaga budaya dan memberdayakan potensi lokal melalui partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan festival.
Manager DTW Jatiluwih John Ketut Purna menyampaikan Jatiluwih Festival VI momentum penting yang tidak hanya merayakan budaya, tetapi juga gaya hidup yang menyatu dengan alam.
Pihaknya ingin menyampaikan pesan kuat bahwa pertumbuhan sejati lahir dari hubungan harmonis dengan lingkungan, bukan dari eksploitasi sumber daya alam.
“Hari ini kita tidak hanya meresmikan sebuah festival, kita sedang menyampaikan kepada seluruh dunia bahwa desa kecil yang ada di lereng Gunung Batukaru ini, bernama Desa Jatiluwih punya cerita besar yang ingin dibagikan, kita punya nilai. Kita punya warisan dan yang lebih penting, kita punya semangat,” katanya.
Ia mengharapkan festival ini menunjukkan kepada dunia bahwa desa kecil di lereng Gunung Batukaru mempunyai cerita besar yang layak dibagikan. Budaya di Jatiluwih bukan hanya warisan, tetapi juga sumber energi untuk masa depan.
Tarian maskot Jatiluwih yang ditampilkan menjadi simbol regenerasi budaya, sedangkan peragaan busana kostum karnaval, pelatihan, kuliner, hingga pameran UMKM menjadi wadah ekspresi dan keterlibatan aktif masyarakat, terutama generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sanjaya bersama rombongan menyaksikan berbagai atraksi budaya, seperti Tebuk Lesung, parade gebogan, pertunjukan memasak tradisional “Tum Bungkil Gedebong”, dan nyuwun padi.
Rombongan juga meninjau langsung pameran UMKM serta aktivitas pertanian, seperti Metekap dan Ngejuk Lindung, yang menunjukkan integrasi budaya, pertanian, dan ekonomi kreatif di Jatiluwih.
Baca juga: Eropa terdampak perang, turis Asia dongkrak kunjungan ke Jatiluwih
Baca juga: Jatiluwih gelar "Ngajak Nandur" dorong pariwisata berkelanjutan
