Gianyar (Antara Bali) - Puluhan petani Subak Laud Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali mendapat pengenalan alat pemanen padi yang disebut "Zaaga" dari Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan (Dishutbun) setempat yang menggandeng perusahaan yang memproduksi alat tersebut.
Kepala Dishutbun Gianyar I Gusti Ayu Dewi Hariani, Rabu mengatakan, pengenalan tersebut untuk menyosialisasikan mesin produk dalam negeri untuk menekan hilangnya hasil pasca panen.
Ia mengatakan, pengenalan tersebut merupakan yang kedua kalinya di wilayah Kabupaten Gianyar, yang sebelumnya alat itu sudah dipromosikan di Subak Biang Cuka, Pejeng Kangin Tampaksiring, Agustus lalu.
Di zaman yang akselerasi perkembangannya kian cepat itu, tentu membutuhkan sesuatu yang canggih untuk mengimbanginya, sesuai dengan kemajuan tekhnologi.
Sektor Pertanian tidak luput dari perkembangan itu. Dengan adanya "Zaaga" nantinya akan memudahkan petani dalam mempercepat perolehan hasil panen padi, ujarnya.
Konsultan Pabrik pembuat "Zaaga" Made Ujiana menuturkan, memanen dengan cara manual mengurangi keuntungan yang diraup oleh petani, karena resiko kehilangan gabah sekitar 13 persen.
Dengan mengestimasi perbandingan cara kerja mesin Zaaga dengan Manual Semisal lahan seluas satu hektare pendapatan rata-rata delapan ton gabah kering panen. Hasil per hektare harganya sekitar Rp 3600/ kg, tingkat kehilangan hanya tiga persen, sehingga pemasukan dapat diraup sekitar Rp 27 juta.
Dari sisi pengeluaran membutuhkan biaya sewa mesin, mobilisasi, dan makan tiga orang sekitar Rp2,6 juta. Keutungan diraih sekitar Rp 24juta.
Ujiana menambahkan, jika dikomparasi dengan manual, tingkat kehilangan mencapai 13 persen, dengan kalkulasi serupa, hanya akan memberi pemasukan sebesar Rp 25juta, karena pengeluaran bawon dan makan pekerja 25 orang sekitar Rp3,5juta.
Keuntungan yang didapat hanya tercapai Rp 21 juta. Dibandingkan dengan Zaaga yang tingkat kehilangan tiga persen, tentu akan ada efisiensi penghematan secara signifikan, ujarnya.
Dari sisi operasional, lanjut Ujiana, kendaraan pemanen yang dibanderol seharga Rp82,9 juta dilengkapi blower pemisah, antara gabah dengan potongan batang padi. Gabah langsung ditampung di dalam karung yang tergantung di bagian samping kendaraan.
Ditunjang roda karet, untuk mempermudah mengangkutnya dari rumah ke sawah. Selanjutnya dapat diganti roda khusus, dari plat besi untuk digunakan dilahan persawahan saat memanen. Prinsip dasarnya adalah memotong, merontokkan, dan menghisap, ulasnya.
Salah seorang anggota DPRD Gianyar Ketut Karda yang menyaksikan peragaan Zaaga mengatakan, pihaknya sangat mendukung keberadaan alat ini.
Sebab, dengan berbagai manfaat yang didapat, tentu tujuan mencapai swasembada beras dapat dicapai.
Selain itu, dengan adanya praktis itu tenaga dapat dikurangi. Sebab, nantinya petani akan dapat menggarap panen secara mandiri.
"Kami harapkan, Pemkab Gianyar dapat mensubsidi pembelian alat ini terhadap subak-subak. Sebab, dari segi manfaat, hasilnya sudah jelas berdampak terhadap penghematan, dan memperoleh keuntungan," ucapnya.
Gede Asta, salah satu petani yang ikut menyaksikan peragaan ini mengaku cukup puas dengan hasil dari alat memanen padi ini.
Gabah yang dipotong hampir tidak ada terbuang keluar, semuanya ditampung dalam karung. Pekerjaan tidak membutuhkan banyak waktu dan tenaga, (WDY)
