Berawal dari pelaksanaan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Nusa Dua, Bali, awal Desember 2007 lalu pembicaraan tentang Bali yang sunyi dan sepi selama 24 jam ternyata mampu menambah daya tarik Pulau Dewata.
Pada konferensi yang melibatkan 10.000 peserta utusan dari 189 negara itu, delegasi Indonesia mencuatkan gagasan tentang perlunya dunia mengadopsi kearifan Nyepi yang selama ini dilakukan umat Hindu di Pulau Dewata.
Gagasan itu ternyata mendapat apresiasi dunia antara lain adanya gerakan hemat energi, "World Silent Day", yang mengimbau masyarakat untuk memadamkan listrik selama empat jam setiap tanggal 21 Maret setiap tahunnya.
Kondisi demikian memberikan inspirasi bagi biro perjalanan wisata (BPW) maupun "tour operator" dan kalangan hotel untuk mengkemas Nyepi menjadi sebuah paket wisata yang menarik bagi wisatawan ke Bali.
Hari Suci Nyepi tahun baru Saka yang dirayakan setiap 420 hari sekali kali ini jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2014 yang rangkaiannya mulai dari ritual Melasti (membersihkan benda suci) ke laut atau sumber mata air, Tawur Agung Kesanga dan ngerupuk kali ini merupakan peralihan dari tahun Saka 1935 ke tahun baru Saka 1936.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Dr. I Gusti Ngurah Sudiana sejak dini telah mengingatkan pihak manajemen hotel di Pulau Dewata jangan sampai menawarkan paket Nyepi yang berisi beraneka jenis hiburan.
Jika ternyata ada hotel yang menggelar pertunjukan di berbagai diskotek dan membiarkan tamunya ke luar lingkungan hotel, hal itu sama sekali tidak akan ditoleransi. Hotel itu segera diusulkan supaya izinnya dicabut.
Masyarakat sekitar hotel secara tidak langsung akan tetap memantau itikad baik pengelola hotel itu, jika melakukan pelanggaran tentu segera melaporkannya kepada pihak berwajib, termasuk majelis tertinggi umat Hindu.
Jika ada terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan aturan Nyepi tahun baru Saka 1936 pada 31 Maret 2014 segera diberikan teguran dulu. Jika hingga tiga kali tetap juga melanggar diusulkan pencabutan izin hotel.
"Paket Nyepi yang wajar-wajar saja dan sesuai aturan tentu tidak masalah karena memang kita terkenal dengan pariwisata budaya, bahkan ada juga wisatawan yang memang sengaja ke Bali untuk merasakan suasana kesunyian Nyepi," tutur Sudiana.
Pada sisi lain telah ditandatangani kesepakatan forum lintas agama yang intinya meminta masyarakat untuk melaksanakan Nyepi dengan baik dan bagi umat non-Hindu agar menghormati.
Bagi umat Muslim yang ingin shalat ke masjid tetap diizinkan, namun diharapkan tidak membawa sepeda motor dan tidak menggunakan pengeras suara. Selain itu akan diantar oleh pecalang atau petugas pengamanan adat di desa masing-masing.
Hening dan damai
Masyarakat internasional yang menginginkan bisa menikmati keheningan dan kedamaian bisa datang ke Bali untuk ikut bersama umat Hindu merayakan hari suci Nyepi tahun baru Saka 1936 pada hari Senin, 31 Maret 2014.
Bali yang dijuluki pulau surga kala itu pasti sepi, dan malamnya gelap gulita karena tidak menghidupkan listrik. Suasana itu dapat mendukung bagi mereka yang senang melakukan meditasi atau yoga untuk mendapatkan ketenangan batin.
Suasana itulah sebenarnya dinanti-natikan oleh masyarakat internasional, karena kondisi itu tidak ada duanya di dunia selain di Bali.
"Banyak juga wisatawan mancanegara yang justru ingin tahu dan menikmati sunyi dan gelap pada malam hari di Bali, sebab di negara mana pun di dunia mereka tidak akan bisa menjumpai hal seperti itu," tutur Praktisi Pariwisata Bali Made Subada.
Wisatawan mancanegara tentu sangat asyik bisa menikmati kesunyian di Bali dalam kurun waktu 24 jam, sebab masyarakat internasional di negerinya tidak pernah mengalami giliran pemadaman listrik seperti di Indonesia, tuturnya lagi.
Bali seharian itu mengalami bebas polusi udara, karena tidak adanya kendaraan yang melintas di jalan raya di perkotaan maupun di desa-desa saat Nyepi, karena hampir semua kegiatan dilarang dan aktivitas sebagai pantangan hari itu.
Tak hanya BBM, Pertamina juga menghentikan pasokan avtur kepada pengusaha penerbangan, sebab pintu masuk Pulau Bali, termasuk aktivitas penerbangan di Bandara Ngurah Rai ditiadakan saat Nyepi.
Demikian pula enam pelabuhan laut yang menghubungkan Bali maupun antardaerah di Bali pada hari yang istimewa itu juga tidak beroperasi, ditutup sementara.
Untuk wisman
Anggota Forum Welaka (kelompok pemikir) Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Made Raka Santri, mengingatkan, paket wisata Nyepi yang ditawarkan kalangan hotel di Bali menjelang Nyepi bertujuan untuk memfasilitasi wisatawan mancanegara dan wisatawan Nusantara non-Hindu untuk menyaksikan keunikan Bali.
Wisatawan yang menggunakan fasilitas hotel dalam menikmati keunikan Bali itu tetap tidak mengganggu umat Hindu melaksanakan tapa brata penyepian. Paket wisata Nyepi itu bukan ditujukan kepada umat Hindu untuk ke luar rumah menghindari pantangan yang harus dilaksanakan pada Hari Suci Nyepi.
"Bali sebagai daerah tujuan wisata yang dikenal masyarakat dunia, memang harus membuka diri kepada wisatawan dalam dan luar negeri untuk menikmati keunikan yang dimiliki masyarakat Bali, termasuk pada Hari Raya Nyepi," ujar Made Raka Santri.
Kesempatan bagi wisatawan untuk menikmati suasana Nyepi dari hotel tempatnya menginap, tanpa mengganggu lingkungan sekitarnya akan ikut merasakan kenyamanan dan ketenangan suasana nyepi.
Oleh sebab itu wisatawan maupun umat non Hindu wajib mendukung dan menyukseskan umat Hindu mampu melaksanakan tapa brata penyepian dengan baik.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengajak seluruh masyarakat di Pulau Dewata senantiasa menjaga kedamaian dan keamanan selama berlangsungnya perayaan Hari Nyepi Saka 1936.
Lewat perayaan Nyepi oleh umat Hindu di Bali diharapkan mampu menyebarkan vibrasi positif ke seluruh penjuru dunia. Untuk itu umat Hindu hendaknya benar-benar memaknai Pengerupukan sebagai momentum untuk meminimalisisasi unsur-unsur negatif alam (buana agung) maupun manusia (buana alit).
Selain itu melaksanakan seluruh rangkaian prosesi yang terkait dengan Hari Nyepi dengan semangat menjaga Bali tetap "ajeg" atau kokoh dan santhi (damai) dan dapat melewati Hari Suci Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Panyepian atau empat pantangan Nyepi sebagai bagian dari perenungan dan mulat sarira (toleransi)," ujar Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. (WDY)
Pewarta: Oleh I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026