Denpasar, Bali (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Bali tumbuh 5,58 persen pada triwulan I 2026 secara tahunan.
"Pada triwulan I 2026, besaran nilai yang dihasilkan oleh ekonomi Bali mencapai Rp44,28 triliun, sedangkan 2025 di Rp41,94 triliun," kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Selasa.
Agus menilai pertumbuhan 5,58 persen ini angka yang baik untuk Provinsi Bali, mengingat kondisi ekonomi Bali dipengaruhi oleh pariwisata, sementara sektor pariwisata menghadapi banyak tantangan global selama Januari-Maret 2026.
"Ekonomi di Bali terlihat cukup impresif di tengah berbagai macam tantangan yang harus dihadapi, kita ketahui ekonomi kita sangat dipengaruhi oleh pariwisata dan kita tahu kondisi global sedang mengalami sejumlah tantangan, tentu berpengaruh bagi ekonomi Bali," ujarnya.
Namun, lanjutnya, secara tahun ke tahun, ekonomi Bali masih tumbuh di kisaran 5 persen.
BPS Bali mencatat sejumlah peristiwa selama Januari-Maret 2026 menunjukkan aktivitas pariwisata dan konsumsi masyarakat masih relatif baik.
Pada triwulan I 2026, jumlah kunjungan mencapai 1.466.546 orang atau naik 1,04 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Kemudian, tingkat hunian kamar hotel khususnya hotel bintang meningkat 2,2 persen poin secara tahun ke tahun dan keberangkatan pesawat serta penumpang Bandara I Gusti Ngurah Rai juga mengalami peningkatan 0,73 persen.
"Selain itu, di periode triwulan I juga ada beberapa momen hari besar seperti Hari Raya Nyepi, Idul Fitri, Imlek, dan ada cuti bersama yang tentunya akan membuat adanya peningkatan permintaan untuk sejumlah barang konsumsi," ujar Agus.
Selama tiga bulan itu, BPS juga mencatat neraca perdagangan Bali masih surplus sebesar 104,41 juta dolar AS, hingga daya beli masyarakat yang terjaga dengan inflasi yang masih pada batasan.
Setelah diperdalam, terjaganya pertumbuhan ekonomi Bali didorong oleh lapangan usaha yang hampir semua mengalami pertumbuhan kecuali kategori jasa keuangan dan asuransi yang kontraksi 5,01 persen.
"Lapangan usaha akomodasi dan makan minum itu memberikan kontribusi 20,95 persen terhadap total perekonomian Bali dan di triwulan I ini tercatat tumbuh 6,44 persen, kemudian pertanian, kehutanan, dan perikanan itu memiliki sumbangan sebesar 13,33 persen sayangnya tumbuh hanya 2,36 persen, pertumbuhan tertinggi itu tercatat pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, tumbuh 16,67 persen,” kata Kepala BPS Bali.
Lapangan usaha administrasi pemerintahan sendiri melonjak tinggi sebab realisasi belanja pegawai meningkat, lapangan usaha akomodasi makan minum juga melonjak karena kunjungan wisman dan tingkat hunian hotel meningkat.
Kemudian yang juga tumbuh cukup tinggi 8,93 persen adalah industri pengolahan, dimana penyebannya adalah konsumsi listrik untuk segmen bisnis dan industri yang tidak jauh dari kebutuhan pendukung pariwisata.
"Itu tadi sumber pertumbuhannya, kalau bicara angka pertumbuhan, maka dari 5,58 persen pertumbuhan ekonomi itu 1,20 persennya disumbangkan oleh akomodasi dan makan minum, kemudian administrasi pemerintahan 0,97 persen, perdagangan besar dan eceran 0,7 persen, dan industri pengolahan 0,58 persen," ujar Agus Gede.
Dalam mengukur pertumbuhan ekonomi, BPS Bali juga mendata pengeluaran, dimana konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar sebesar 54,15 persen dengan pertumbuhan 5,02 persen selama triwulan I.
"Ini didorong oleh pengeluaran makanan dan minum, penginapan dan hotel, karena tadi ada libur panjang jadi banyak rumah tangga yang melakukan perjalanan wisata," tuturnya.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026