Denpasar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menyatakan kondisi inflasi di Pulau Dewata pada Maret 2026 sebesar 0,56 persen yang secara bulan ke bulan tercatat melandai.

“Dalam tiga tahun terakhir yaitu 2024, 2025, dan 2026 selalu inflasi dan relatif tinggi, tapi Maret 2026 bisa dibilang besaran inflasinya relatif landai dibanding dua tahun sebelumnya,” kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Rabu

Menurut dia, inflasi pada Maret 2026 tergolong melandai apabila dibandingkan periode sama 2025 di Bali sebesar 1,61 persen dan pada 2024 sebesar 0,93 persen.

Agus Gede menjelaskan inflasi bisa terjadi pada Maret karena tingginya permintaan dua hari besar keagamaan yaitu Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri.

Adapun kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau tercatat memberi andil tertinggi dalam inflasi 0,56 persen.

Kelompok tersebut mengalami inflasi 1,08 persen dengan andil terhadap inflasi 0,36 persen, disusul kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar inflasi 0,49 persen dengan sumbangan 0,07 persen, kemudian kelompok Transportasi inflasi 0,70 persen dengan sumbangan 0,07 persen, dan kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa lainnya inflasi 0,56 persen dengan sumbangan 0,05 persen terhadap inflasi.

Lebih lanjut BPS Bali membedah lima komoditas penyumbang inflasi Bali pada Maret 2026, dimana komoditas yang masuk kelompok makanan paling mendominasi jadi penyebab.

“Komoditas pertama yaitu cabai rawit dengan inflasi 15,98 persen dan memberi andil 0,11 persen, kemudian cabai merah inflasi 13,54 persen dan sumbangan inflasi 0,03 persen, lalu daging babi inflasi 2,25 persen dengan andil 0,02 persen,” ucap Agus Gede.

Di luar kelompok makanan, penyumbang inflasi adalah komoditas bensin dengan inflasi 1,28 persen, kemudian tarif air minum PAM inflasi 2,58 persen, dan angkutan antar kota inflasi 20,99 persen.

Pada inflasi cabai rawit, BPS Bali menemukan faktor tambahan dimana selain permintaan yang tinggi, produksi cabai rawit di Bali mengalami gangguan faktor cuaca sehingga terjadi gejolak harga.

“Cabai mengalami peningkatan permintaan karena ada Nyepi dan Idul Fitri dan dibarengi musim yang tidak mendukung yaitu hujan sehingga produksi turun,” ujarnya.

Jika dilihat dari wilayahnya, Agus Gede menyampaikan inflasi tertinggi terjadi di Singaraja dengan angka 0,90 persen dan terendah di Denpasar 0,42 persen.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026