"Pengalihan beberapa pementasan dari Taman Budaya ke ISI untuk mengantisipasi padatnya penonton di Taman Budaya," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Ida Bagus Sedhawa, di Denpasar, Senin.
Ia mengatakan, pementasan yang dipindahkan dari Taman Budaya ke kampus ISI antara lain parade angklung, parade baleganjur iringan fragmentari dan pemutaran film dokumenter.
Demikian pula pementasan pada tujuh panggung di Taman Budaya diatur sedemikian rupa sesuai jenis pegelaran.
"Pementasan sendratari, lagu daerah Bali dan gong kebyar mengambil tempat di panggung terbuka Ardha Candra yang berkapasitas 8.000 penonton," ujar Ida Bagus Sedhawa.
Sementara pementasan skala lebih kecil seperti calonarang, topeng prembon, wayang, arja dan jenis kesenian lainnya dalam skala kecil dipentaskan di panggung Ayodya, Ratna Kanda, Angsoka maupun gedung Ksiarnawa.
Pementasan selama sebulan penuh itu berlangsung mulai pagi hingga malam hari. Selama sebulan penuh itu digelar 180 kali pementasan, termasuk tim kesenian dari mancanegara maupun sejumlah duta seni dari sebelas provinsi di Indonesia.
Ida Bagus Sedhawa menjelaskan, pementasan kesenian yang bersifat tradisi yang dibawakan duta seni dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali berlangsung pada pagi hingga siang hari.
Sedangkan kesenian hasil pengembangan dan unggulan dipentaskan pada sore hingga malam hari.
Pementasan berbagai jenis kesenian itu diharapkan mampu menghibur masyarakat dan mengarahkan kegiatan yang positif bagi para murid dan siswa dalam mengisi liburan panjang.
"Semua itu diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap pengembangan dan pelestarian nilai-nilai budaya, sekaligus membangkit ekonomi masyarakat setempat," kata Ida Bagus Sedhawa. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026