Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster meminta jajaran pemerintah provinsi setempat melakukan tata kelola Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 secara mantap demi tetap menjaga ekosistem budaya di daerah setempat.

“Saya harap semua berjalan lancar dan sukses, untuk Kadis Kebudayaan tanggung jawab hal-hal yang menjadi kekurangan tahun lalu, dievaluasi, setiap tahun harus selalu ada kemajuan, supaya kualitas dari PKB bisa kita capai,” ucap dia di Denpasar, Selasa.

Dalam rangka pengaturan tata kelola Pesta Kesenian Bali ke-48 pada 13 Juni-11 Juli 2026, ia memulai dengan pengaturan sirkulasi seniman, sebab ada 20 ribu seniman akan tampil dan harus dipastikan kenyamanan mereka.

Selain itu, mengatur kebersihan kawasan Taman Budaya Art Centre dengan meminta Dinas Lingkungan Hidup setiap hari memastikan kebersihan meniru kesuksesan Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih yang lalu.

“Jadi perhatikan hal-hal terkait PKB, semakin baik dan rapi komplain semakin berkurang, kalau di Pura Besakih diatur jadi bersih buatkan imbauan supaya pengunjung tertib, pedagang juga tidak menumpuk sampah, dinas setiap hari di sana,” ujarnya.

Ia juga menekankan tata kelola stan UMKM dengan meminta Dinas Koperasi dan UKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan memastikan kualitas produk yang dijual, sekaligus mengundang Badan POM memeriksa produk agar tidak ada makanan tercemar bahan berbahaya.

“Kemudian penonton yang datang sebaiknya bisa dihitung ya, tiap hari berapa yang berkunjung dan jenis karya seni apa yang paling diminati oleh supaya bisa kita ketahui dan tolong pasang CCTV agar bisa dipantau sehingga begitu ada kejadian langsung bisa kita atasi,” kata dia.

Orang nomor satu di Pemprov Bali itu, melihat dari sisi pengamanan tahun ini juga diperlukan pengawasan, sebab sering ada oknum pedagang pasar malam di sebelah Taman Budaya Art Centre yang membobol tembok.

“Setiap mau Pesta Kesenian Bali temboknya dibobol, jadi pengunjungnya masuk dari lubang itu, tolong paten temboknya karena nakal dia belanja di sana tapi sampahnya dibawa ke arena PKB,” ucapnya.

Terkait dengan tata kelola parkir, ia mengakui keterbatasan area tersebut membuat pengunjung parkir di rumah-rumah warga.

Menurut dia, hal tersebut tidak salah karena menjadi rezeki pemilik rumah. Hanya saja perlu dipastikan kerapian sebab berpotensi menyebabkan kemacetan di sekitar pintu utama Taman Budaya.

Koster menjelaskan penataan ini penting untuk menjaga ekosistem budaya, di mana dalam ekosistem tersebut terdapat pencipta karya seni, pelaku seni, dan penonton.

“Nomor satu pencipta karya seni, kedua pelaku seni mau penari atau penabuh, dan ketiga kalau tidak menjadi pemain harus jadi penonton, kalau itu hilang ada ancaman kebudayaan Bali, tugas kita memelihara ekosistem supaya kebudayaan Bali eksis diwariskan ke generasi penerus,” ujarnya.

Pada PKB tahun ini, ia menyatakan untuk pertama kali pergelaran tersebut menggunakan penyelenggara kegiatan.

Menurut dia, dengan Disbud Bali dibantu pihak penyelenggara kegiatan itu maka pesta seni akan semakin baik, apalagi penggunaan peranan mereka sudah masuk pagu anggaran sehingga tidak ada anggaran yang terdampak.

Kepala Disbud Bali Ida Bagus Alit Suryana menambahkan sejauh ini mereka sudah menyiapkan segala hal berkaitan dengan Pesta Kesenian Bali, seperti tata kelola kebersihan di mana konsumsi para seniman kini berupa voucer yang ditukarkan ke UMKM kuliner sehingga mengurangi wadah sekali pakai.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026