Denpasar (ANTARA) -
ISI BALI mengukuhkan peran strategis dalam menginisiasi poros perguruan tinggi seni dan desain di kawasan Asia-Pasifik.
ISI BALI kembali menggelar Bali-Global Axis of Arts and Design (B-GAAD) II 2025, sebuah ajang multifaset internasional dengan menghadirkan 11 perguruan tinggi bereputasi di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI di Denpasar, Selasa (28/10).
Ajang tahunan B-GAAD II itu berhasil mendeklarasikan lima misi utama Panca Mahadharma yang ditandatangani pemimpin dan delegasi perguruan tinggi yang hadir.
B-GAAD II yang berlangsung hingga Jumat (31/10) ini mengusung tema Tutur-Bhuwana-Tuwuh atau Myth-World-Memories yang menegaskan keberadaan mitos sebagai pengetahuan sekaligus spirit pondasi kearifan hidup dalam peradaban di Asia Pasifik.
B-GAAD II mewartakan beragam ekspresi terkini dalam seni juga inovasi desain yang tertaut mitos, berikut narasi memori, serta relevansinya dengan dinamika jagat hari ini.
Ketua Panitia B-GAAD II Nyoman Dewi Pebryani Ph.D menyampaikan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi seni dan desain di Asia Pasifik sangat antusias menyambut dan berpartisipasi aktif dalam perhelatan internasional yang digagas ISI BALI.
Perguruan tinggi itu yakni Phetchaburi Radjabhat University-Thailand bersama sepuluh delegasi, University of Iowa dengan empat utusan dan University of Western Australia dengan lima delegasi. Perguruan tinggi bereputasi seperti ASWARA-Malaysia dan Lasalle College of the Arts-Singapura menghadirkan unsur pimpinan teras.
Selain delegasi hadir langsung, Direktur Pascasarjana ISI BALI ini juga menambahkan banyak berpartisipasi secara daring yaitu Kazakh National Academy of Choreography-Kazakhstan, Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA)-Singapura, Kyoto Saga University of Arts dan Okinawa Prefectural University of Arts Jepang, Jatiya Kabi Kazi Nazrul Islam (JKKNI) University Bangladesh, serta Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Korea Selatan.
B-GAAD II terlaksana di sejumlah lokasi yaitu Agung Rai Museum of Art (ARMA) dan Komaneka Art Gallery, Ubud, untuk kegiatan Pameran Internasional Bali-Global Art Map Exhibition (B-GAME). Kemudian di Kawasan Wisata Jatiluwih, Tabanan dan Museum Wiswakarma, Gianyar sebagai ruang pelaksanaan Bali-Global Authentic Trip (B-GAT).
Selanjutnya di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Desain Hub, Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, juga Bancingah ISI BALI sebagai tempat perhelatan Pameran Desain Internasional Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME), B-GAAD Leaders’ Summit, Bali-Global Arts and Design Symposium (B-GADS), Bali–Global Performing Arts Map (B-GPAM), Bali-Global Encounter Figure (B-GEF) dan Bali-Global Expo and Job Fair (B-GEJF).
Deklarasi Panca Mahadharma
Sementara itu, Rektor ISI BALI Prof Dr Wayan ‘Kun’ Adnyana mewakili seluruh pemimpin dan delegasi membacakan Deklarasi B-GAAD “Panca Mahadharma” yang berisi lima misi utama komitmen masa depan perguruan tinggi seni dan desain di Asia-Pasifik, Caksu-Bhuwana-Citta atau Noble Vision for Shining Futures.
Ada pun lima misi utama itu yakni (1) kemitraan untuk pemajuan keunggulan akademik berkelanjutan, (2) Komitmen untuk kesejahteraan masyarakat dan komunitas, (3) Kolaborasi dalam preservasi budaya lokal dan warisan luhur, (4) Partisipasi aktif dalam konservasi lingkungan hidup dan (5) Meneguhkan kreativitas dan inovasi teknologi dalam reka-cipta seni dan desain.
Deklarasi Panca Mahadharma ditandatangani 15 pemimpin dan delegasi B-GAAD II, yaitu Prof I Wayan Adnyana (Rektor ISI BALI, Indonesia), Prof Sanor Klinngam, Dr Kitsada Tungchawal dan Prof Rapipan Thiamdaet (Pimpinan Phetchaburi Rajabhat University, Thailand), Prof. Kate Hislop selaku Dekan School of Design, University of Western Australia-Australia.
Selanjutnya Prof Koh Young Hun (Hankuk University of Foreign Studies-Republik Korea), Prof Catherine Parrott MFA (University of Iowa-Amerika Serikat), Prof K Azril Ismail dan Prof Suzlee Ibrahim (Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan-Malaysia), Prof Jaygo Bloom (Lasalle College of the Arts, Singapura) serta lima unsur pimpinan ISI BALI yaitu Dr Made Arshiniwati, Prof Anak Agung Gde Bagus Udayana, Dr Made Jodog, Prof Komang Sudirga, dan Nyoman Dewi Pebriyani Ph.D.
