Bangli (Antara Bali) - Seekor ular misterius berwarna hitam legam seukuran tangan orang dewasa menggegerkan warga Kelurahan Bebalang, Kabupaten Bangli, Bali.
"Munculnya seekor ular yang melintang di atas kabel telepon, tepatnya di simpang empat Banjar Bebalang, kelurahan Bebalang itu membuat puluhan warga setempat geger," kata Kelihan Lingkungan Bebalang, I Wayan Windia, Kamis.
Kemunculan ular di tempat yang sama untuk ke empat kalinya itu, pertama kalinya terlihat tepat saat prosesi upacara karya "ngusaba" ritual berskala besar di Pura Dalem Lagaan beberapa bulan lalu.
"Ular dengan panjang, warna dan bentuk tubuh bisa berubah-ubah itu, tidak seperti ular pada umumnya. Ular ini melintang di kabel yang sama," katanya.
Kemunculan yang kedua, kata Windia, saat proses "mistis" yang disebut "ngerehang" Ida Bhatara Ratu Mas Ayu juga kegiatan ritual di desa setempat.
"Saat itu binatang yang sama kembali muncul bertepatan dengan piodalan (ritual tahunan) di Pura Dalem Senapati Bebalang," katanya.
Ketiga, jelasnya, ular warna hitam legam itu juga muncul beberapa tahun lalu di Pura Gaduh, bangunan suci yang memiliki hubungan erat dengan Pura Kehen.
"Saat itu ular aneh tiba-tiba muncul bertengger di atas salah satu bangunan suci," ujarnya.
Kala itu, ular yang persis sama berdiri tegak tinggal tersisa beberapa jengkal ekor "meliuk-liuk menari" di atas bangunan suci.
"Setelah diberikan sesajen berupa canang pemendak, ular itu menghilang misterius tanpa bekas," katanya.
Tanda gaib waktu yang disampaikan oleh kemunculan ular itu adalah mengingatkan warga agar menghiasi bangunan tersebut, karena masyarakat tidak pernah menghias atau memasang busana pada bangunan suci.
Keempat, kata Windia, ular itu kembali menampakkan diri di atas kabel telepon di Kelurahan Bebalang.
Saat ini, warga semakin yakin kalau ular itu bukan sembarangan, namun "ancangan" Ida Bhatara setelah tidak berapa lama kemunculannya.
Hal ini dibuktikan ada belasan warga Bebalalang yang kesurupan atau kerauhan "ngiring tapakan barong ket".
"Ada beberapa yang menirukan gerakan ular dengan suara mendesis. Warga yang kesurupan semacam itu masih berlangsung sampai kini, dan selalu terjadi jika ada upacara persembahan kepada Ida Batara Ratu Mas medal," jelasnya.
Saratnya muatan mistis semacam itu, membuat warga tidak berani gegabah melihat kemunculan ular berada dekat dengan pelinggih atau bangunan suci yang berada di areal pura.
"Kita sudah 'ngaturang canang pemendak' di lokasi kemunculannya kali ini. Semoga ini pertanda baik untuk Bangli di masa mendatang. Karena kita sangat meyakini setiap jengkal sudut wilayah daerah ini dijaga oleh 'ancangan' Ida Batara," ujarnya.(*)
