Dishub Tabanan Menggelar Pertemuan Dengan Sopir

Dishub Tabanan Menggelar Pertemuan Dengan Sopir

Pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan, Bali, melepas 12 bus untuk pemudik di kantor Pemkab setempat, Minggu (18/6). Belasan bus itu untuk melayani 520 orang warga Muslim melakukan mudik untuk merayakan Idul Fitri 1438 Hijriah ke kampung halam

Tabanan (Antara Bali) - Dinas Perhubungan Kabupaten Tabanan, mengadakan pertemuan dengan seluruh sopir dan pramudi Trans Serasi yang khusus melayani transportasi bagi para siswa di daerah "gudang beras" di Bali tersebut.

"Pertemuan untuk meningkatkan pelayanan kepada siswa dari seluruh jenjang pendidikan dari rumah ke sekolah pergi pulang (PP) terkait pengaduan sejumlah siswa terhadap layanan Trans Serasi," kata Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Tabanan I Made Jaman, Sabtu.

Ia mengatakan, pertemuan dengan seluruh para sopir dan pramudi Trans Serasi berlangsung Jumat sore (11/8) untuk merespon cepat pengaduan para siswa tentang pelayanan transportasi.

"Selain itu juga mengurai akar persoalan yang sesungguhnya terjadi, sekaligus sebagai `ajang curhat` para sopir Trans Serasi selama menjalani tugas-tugasnya di lapangan," I Made Jaman.

Pertemuan yang juga dihadiri perwakilan dari Perum DAMRI I Wayan Putu, serta Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) I Gusti Bagus Satriyadi membahas berbagai hal menyangkut kondisi sesungguhnya transportasi para siswa yang diduga ada tindakan diskriminatif terhadap siswa.

"Dari hasil pertemuan itu terungkap ada semacam kesalahpahaman,"

jelas Made Jaman, usai pertemuan berlangsung," ujar I Made Jaman.

Selama ini sopir Trans Serasi Pemkab Tabanan memang memprioritaskan siswa-siswa yang terjauh lebih dulu. Mereka memang diminta turun bukan berarti tidak mau diangkut, namun diminta menunggu bus yang datang berikutnya.

Kondisi tersebut menurut I Made Jaman tidak terlepas dari membludaknya jumlah siswa, khususnya di SMP Negeri 1 dalam tahun ajaran 2017 memberlakukan masuk pagi untuk seluruh kelas.

"Sebetulnya, kondisi ini sudah kami antisipasi dengan memberlakukan dua antar jemput. Jadi begitu selesai antar siswa sampai tujuan terakhir, juru mudi akan kembali ke SMPN 1 untuk mengangkut siswa lainnya. Kalau masih ada siswa yang tinggalnya terjauh itu tetap diprioritaskan lebih dulu," ujar I Made Jaman.

Kondisi jumlah siswa yang tidak imbang dengan jumlah armada angkutan itu juga diperparah dengan gencarnya razia lalu lintas terhadap siswa SMP yang selama ini nekat masuk sekolah dengan mengendarai sepeda motor.

Sejak razia yang digelar Polres Tabanan dan jajarannya di tingkat Polsek jumlah siswa yang memanfaatkan Trans Serasi mengalami lonjakan signifikan.

"Belum lagi situasi jumlah penumpang antara jam masuk sekolah dengan jam pulang sekolah berbeda drastis. Karena rata-rata pagi hari atau saat siswa masuk sekolah, mereka diantar orang tua, sementara saat pulang sekolah, mereka baru memanfaatkan Trans Serasi," ujar I Made Jaman.  (WDY)