Oleh: Masuki M. Astro
Denpasar (Antara Bali) - Memulai sebuah usaha bisnis tidak selamanya harus berbicara tentang uang. Modal uang hanya salah satu variabel untuk meraih sukses dalam dunia perdagangan tersebut.
Mirawati Basri SE, adalah salah satu contoh bagaimana ia mampu merebut peluang pada saat ia tidak memiliki cukup modal finansial. Ia bermodal nol ketika mengambil alih bisnis penjualan perlengkapan industri teknologi informasi (IT), Asiatech pada 2003.
Modal besar dari perempuan yang biasa dipanggil Mira ini dalah prinsip bahwa dalam hidup, "Jangan pernah bilang tidak bisa".
"Ibaratnya, bila ada klien yang minta bantuan untuk membetulkan genteng rumahnya yang bocor, sementara kita takut naik ke atas atap rumah dan tidak dapat mengerjakannya, jangan bilang tidak bisa. Kita harus bilang bisa," katanya.
Setelah mengatakan mampu dan membicarakan ongkos kerjanya, kata dia, bisa minta waktu untuk menyiapkan peralatannya. Waktu yang sangat berharga itu dapat digunakan untuk menghubungi seorang tukang yang memang ahli membetulkan genteng.
"Kemudian kita datang lagi bersama si tukang menemui sang klien untuk memperbaiki genteng bocor itu. Kita tinggal bilang kepada klien, tukang itu asisten saya ha ha ha," katanya tertawa.
Perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat, yang keahliannya hanya di bidang finance itu bercerita bahwa pada tahun 2000 ia mendapat kesempatan untuk membeli saham Asiatech sebesar delapan persen.
Memasuki tahun 2003, pemegang saham mayoritas terdahulu mengundurkan diri karena hendak hijrah ke Amerika Serikat. Pada saat itu, dia diminta menjadi pemilik saham terbesar Asiatech. Padahal ia sama sekali tidak memiliki uang yang cukup.
"Sekalipun rumah saya dijual, hasilnya tidak bakal dapat menutup nilai saham mayoritas yang ditawarkan," kata Mira.
Meskipun tidak memiliki uang untuk membeli saham itu, hati kecilnya mengatakan bahwa ini merupakan kesempatan besar. Karena itu ia bertekad untuk bisa memiliki Asiatech. Ia juga yakin bahwa bersama timnya akan mampu membesarkan perusahaan tersebut.
Ia semakin tertantang, apalagi ada di antara pemegang saham terdahulu yang tidak percaya bahwa perempuan kelahiran 31 Maret 1973 ini dapat mengambil alih Asiatech. "Aku bisa memiliki Asiatech," kata Mira mengenang kembali suara bathinnya.
Setelah mendapat dukungan sang suami, H Jerry Tomasoa SH, Mira pun bergerak cepat. Ia segera mencari teman-teman yang diperkirakan dapat membantunya lantaran waktu yang diberikan oleh pemilik saham lama terbilang sangat mepet, hanya dalam hitungan hari.
Ketika itu Mira bertemu dengan kawannya bernama Popo Ignatius. Kepada Popo ia berterus terang untuk pinjam uang dalam jumlah besar untuk saat itu, yakni Rp200 juta. "Tolong pijami saya uang Rp200 juta dong. Nanti saya kasih saham 10 persen," kata Mira kepada Popo.
Pertama kali yang dilontarkan Popo adalah bertanya apa jaminannya. "Jaminannya saya," kata Mira tangkas.
Ia bersyukur karena Popo langsung menyetujui permintaannya tanpa jaminan, kecuali dirinya sendiri. Bahkan Popo mengistilahkan pinjaman waktu itu dengan "jaminan darah". Saat itu Mira mendatangi kantor Popo pada hari Jumat. Popo meminta nomor rekening Mira dan berjanji hari Senin-nya uang diransfer.
Mendapatkan pinjaman dengan jaminan "janji darah" ternyata tidak sepenuhnya masalah selesai. Mira menghadapi persoalan terkait penghitungan biaya operasional untuk menjalankan perusahaan tersebut.
"Akhirnya saya jual lagi saham sebesar 10 persen yang nilai nominalnya Rp75 juta," ujar ibu dari dua anak, M Zico Dimitry Tomasoa dan Luna Zakaya Tomasoa ini.
Saham itu kemudian dibeli oleh temannya bernama Nur Darodjat.
Saham mayoritas sudah di tangan. Dana operasional telah tersedia. Tapi persoalan-persoalan yang sifatnya penting belum juga rampung.
"Modal saya hanya keterampilan di bidang finance, sementara menjalankan bisnis perlengkapan IT ini membutuhkan tenaga-tenaga ahli, sales profesional dan perlu mentor untuk menutupi kekurangan-kekurangan saya," ujar Mira.
Sambil berusaha dengan tidak lupa mendekatkan diri kepada sang Khaliq, sebagaimana kebiasaannya selama ini, maka datanglah kondisi yang disebutnya sebagai "keajaiban". Tuhan memberikan jalan kemudahan menemukan semua yang ia butuhkan untuk memajukan Asiatech.
Ia pun menjalankan perusahaan tersebut sambil belajar mengenai dunia sales yang kemudian digabungkan dengan keahliannya di bidang finance.
Tak sia-sia konsumen pertama yang berhasil digaet Asiatech sejak dipegang Mira adalah perusahaan milik Pertamina. Ia menang tender proyek Balongan, padahal untuk itu tidak mudah karena persaingan ketat.
Menjadi bos di perusahaan itu, tidak membuat Mira hanya berada di belakang meja. Ia rajin untuk turun langsung ke lapangan. Berkat kecerdasan dan keuletannya, setiap tahun Asiatech selalu mendapatkan konsumen baru.
Meskipun demikian, saat itu, perjalanan Asiatech masih dibilang tertatih lantaran modal dasarnya dari hasil pinjaman. Tidak heran bila selama lima tahun, perusahaan belum mampu membagi dividen kepada para pemegang saham.
Sesuai perjanjian, kata Mira, Asiatech menyelesaikan "janji darahnya" kepada Popo Ignatius pada 2004. Setahun kemudian, Popo melepaskan sahamnya yang 10 persen di Asiatech. Mira membelinya dan membuat Asiatech belum dapat bernafas lega.
Bahkan, sekitar tahun 2006, Asiatech tersendat-sendat membayar gaji karyawan yang jumlahnya hanya segelintir orang. Belum lagi tugasnya sebagai ibu rumah tangga, terkadang harus pandai membagi waktu dan perhatian terhadap keluarga.
"Semua saya lalui dengan tetap fokus mengelola Asiatech, setiap hari membuat planning, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya mendekat kepada Allah, karena apa yang saya minta selalu Allah berikan tepat pada waktunya," katanya.
Setelah 2007 dan tahun berikutnya, yakni pada 2008, Indonesia diterpa krisis moneter, geliat bisnis Asiatech mulai menunjukkan grafik naik. Ia pun tidak lupa untuk bersyukur kepada Tuhan atas keberhasilan menghadapi masa-masa sulit tersebut. Salah satunya, pada 2011, Mira bersama suami berangkat ke tanah suci Mekkah.
Bentuk lain dari syukur itu adalah, berusaha menularkan ilmu dan hal-hal positif mengenai prinsip hidup kepada orang di sekitarnya. Selain itu, ia juga tidak pernah berhenti belajar mengembangkan kemampuannya kepada para mentor.
Pengetahuannya tersebut kemudian ia tularkan kepada jaringan sales Asiatech. "Kepada mereka, saya katakan jangan pernah bilang tidak bisa," ujar Mira.
Untuk menciptakan dan membangun pasar, kata Mira, strateginya adalah jeli melihat kebutuhan pasar. Bahkan, adakalanya dia harus menciptakan pasar. Suatu jasa atau produk yang tadinya tidak dibutuhkan oleh pasar menjadi kebutuhan pasar berkat sebuah strategi.
Asiatech, perusahaan lokal yang berdiri tahun 2001, sejak awal memfokuskan diri pada bisnis teknologi pengiriman data cepat dengan biaya murah melalui produk "Riverbed", "Overland", "Bakbone", dan "Swallow Tech".
"Riverbed misalnya, dapat membantu sebuah korporasi yang ingin mengirimkan atau mencari data secara cepat dengan biaya murah. Alat ini sangat tepat bila dipakai oleh sebuah instansi atau lembaga yang ingin memasyarakatkan teknologi lewat jaringan internet," kata Mira.
Asiatech menjadi pionir di Tanah Air yang menyediakan solusi bagi konsumen untuk pengiriman data berbiaya murah yang sebelumnya sulit dijangkau oleh masyarakat. Klien atau konsumen Asiatech, antara lain, Freport, Medco, Chevron, dan Conoco.(*)
