Denpasar (Antara Bali) - Para penyuluh bahasa Bali, yang direkrut pemerintah Provinsi Bali, menemukan 8.366 "cakep" atau bundel lontar milik masyarakat dalam kondisi rusak atau kurang terawat.

"Dari data yang kami peroleh ini akan terus bergerak, karena memang ada beberapa tempat, kalau tidak dewasa ayu (hari baik) seperti Saraswati tidak diizinkan untuk membuka," kata Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali I Nyoman Suka Ardiyasa saat mendatangi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali di Denpasar, Rabu.

Dia mengemukakan data lontar yang didapatkan tersebut adalah lontar yang sudah ada judulnya dan sudah didatangi langsung ke masyarakat di sembilan kabupaten/kota di Bali selama dua bulan para penyuluh bertugas di desa-desa. "Jadi data ini bisa dipertanggungjawabkan," ujarnya.

Dari 8.366 "cakep" lontar tersebut, sebanyak 5.804 lontar masih bisa dibaca namun memerlukan konservasi lanjutan, sedangkan 2.562 lontar dalam kondisi sudah tidak utuh dari sisi bentuk atau fisiknya dan dari isinya.

Sedangkan sebarannya untuk setiap kabupaten/kota adalah Buleleng (611), Badung (322), Denpasar (819), Gianyar (1.513), Karangasem (284), Klungkung (2.103), Jembrana (238), Tabanan (1.921) dan Bangli ada 555 cakep lontar.

Ardiyasa menambahkan, para penyuluh bahasa Bali untuk enam bulan pertama bertugas sebenarnya memfokuskan untuk melakukan pemetaan terhadap potensi bahasa, aksara, dan sastra Bali.

"Khususnya di bidang aksara, ketika kami turun menemui tokoh-tokoh masyarakat banyak yang menyodorkan lontar. Mereka berharap dibantu untuk diselamatkan. Kebanyakan meminta untuk dikonservasi dan dibaca," ujarnya yang juga Ketua Aliansi Bahasa Bali itu.

Lontar yang dalam kondisi masih bisa dibaca kebanyakan yang disimpan di lingkungan kelompok bangsawan seperti puri dan geria karena masih sering dibuka ketika ada ritual pernikahan, sedangkan yang rusak kebanyakan dimiliki masyarakat awam.

"Masyarakat sering menganggap lontar sebagai barang `tenget` atau keramat sehingga tidak boleh dibaca, akibatnya karena lama tidak dibaca akhirnya dimakan rayap sehingga rusak," ucap Ardiyasa.

Oleh karena itu, lanjut dia, menjadi pekerjaan rumah bersama untuk memberikan penyadaran bahwa sesungguhnya lontar itu ibaratnya adalah buku yang harus dibaca, di samping tetap disakralkan.

Meskipun sudah mempunyai data lontar yang membutuhkan upaya konservasi, para penyuluh belum melakukan tindak lanjut karena pihaknya tidak mempunyai dana operasional untuk melakukan upaya penyelamatan.

"Selama enam bulan ini kami akan fokus untuk membuat kelompok belajar bahasa Bali untuk anak-anak karena kami melihat masih minim penguasaan anak terhadap bahasa Bali. Sedangkan lontar minimal kami punya data dulu untuk disampaikan pada Dinas Kebudayaan," kata Ardiyasa. (WDY)


Pewarta: Pewarta: Ni Luh Rhismawati
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026