Demikian pula, makanan yang tidak berlebih, kualitas udara yang segar, pola pikir yang lebih sederhana, tidur lebih berkualitas, lebih sedikit konsumsi obat-obatan kimia, serta miliki hubungan sosial dan keluarga yang lebih harmonis, tutur Direktur Utama PT Karya Pak Oles, Gede Ngurah Wididana.
Pria kelahiran Buleleng yang mengelola sejumlah perusahaan yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia mengatakan bahwa banyaknya faktor yang pengaruhi umur panjang dan kesehatan yang prima bagi masyarakat desa.
Kondisi demikian lebih sulit dapat dicapai masyarakat kota. Sehubungan dengan banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan atau cepat lambatnya manusia mati agar labih fokus pada faktor gaya hidup herbal yang selama ini sudah dijalani masyarakat desa secara turun-temurun.
Gaya hidup herbal bagi masyarakat desa sudah terpatri kuat dalam hidupnya, terutama masyarakat desa yang hidup di daerah pegunungan. Bagi masyarakat desa yang hidup di daerah pesisir, mereka terbiasa konsumsi berbagai jenis rumput laut sebagai sayur.
Kandungan rumput laut yang kaya mineral mikro, asam nukleat, asam amino, protein, dan vitamin sangat berguna untuk menjaga kesehatan tubuh. Demikian pula, konsumsi ikan laut segar, kerang, cacing, belut, udang, cumi-cumi, ubur-ubur, dan berbagai jenis binatang laut yang lain sebagai menu harian sangat membantu menjaga kesehatan.
Menurut Gede Ngurah Wididana yang memiliki sekitar 2.000 orang karyawan dari puluhan perusahaannya di berbagai daerah itu, banyak cara untuk mengolah aneka jenis masakan rumput laut menjadi salad, sejenis pecel, sup, tumis, atau menjadi penganan kecil, seperti kue, bubur, dodol, permen, dan aneka makanan olahan rumput laut, sehingga masyarakat mendapatkan gizi yang cukup untuk hidupnya.
Gaya hidup herbal di tengah masyarakat desa yang tinggal di pegunungan selama ini telah terbiasa mengonsumsi sayur, berbagai jenis herbal (tanaman liar) untuk sayur, obat (jamu) untuk meningkatkan stamina dan ketahanan tubuhnya terhadap penyakit.
Tanaman herbal setiap saat tersedia tumbuh di pekarangan. Jika mereka termasuk petani yang rajin dan penuh perhatian, tanaman herbal dibudidayakan dengan serius di pekarangan.
Hal itu bukan saja untuk memenuhi kebutuhan makanan sayur, obat, atau rempah dalam keluarga, melainkan juga bisa dijual ke pasar atau mengolah jadi produk makanan dan jamu untuk dipasarkan kepada masyarakat luas.
Masyarakat yang hidup di pegunungan daerah tropis miliki banyak berkat Tuhan yang mungkin belum disyukuri. Tanah-tanah di pegunungan cukup subur untuk tanaman herbal, bahkan sangat banyak tanaman herbal yang tumbuh liar atau gampang tumbuh subur jika bijinya disebar atau batangnya ditancapkan ke tanah.
Daun-daun herbal tersebut bisa dipetik, selanjutnya bisa dikonsumsi langsung untuk salad, dimakan mentah bersama nasi sebagai lauk, yang sekarang lagi `ngetren` sebagai makanan mentah yang kaya enzim dan mineral.
Dijadikan Jus
Gede Ngurah Wididana yang kini lebih dikenal dengan Pak Oles telah memproduksi puluhan jenis produk herbal itu menjelaskan bahwa daun tanaman herbal yang bisa dikonsumsi langsung bisa dijadikan sebagai jus atau dimasak bersama telur yang didadar atau digoreng, dibuat tumis atau dibuat sup.
Tentu jus daun herbal agar tidak pahit atau sesak, bisa ditambahi buah yang manis, seperti nanas, pepaya, pisang, srikaya, atau jambu.
Jika masyarakat tinggal di perumahan perkotaan dengan lahan yang sempit, tentu bisa menanam tanaman herbal di dalam pot untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa jenis pot dengan berbagai ukuran dijejer di halaman rumah.
Tanah subur bisa didapatkan dengan membeli atau mencarinya di lahan pertanian. Asal tanaman bisa mendapatkan sinar matahari dan rajin menyirami dengan air, tanaman herbal kesayangan itu akan tumbuh dengan subur.
Tanaman herbal daun katu (daun kayu manis) dan daun kelor banyak manfaatnya untuk meredakan panas dalam, menurunkan tekanan darah, bisa dimanfaatkan dengan merebusnya untuk teh, meremasnya menjadi jus, atau digunakan sebagai sayur.
Khusus tanaman herbal antawali, yang memiliki rasa yang sangat pahit, bisa digunakan untuk obat batuk dan sakit tenggorokan dengan cara merendam potongan batangnya ke dalam air panas, kemudian diminum.
Oleh karena itu, makanlah sayur mentah sebagai lalapan, seperti kacang panjang, kol, wortel, lobak, buncis, timun, dan tomat, untuk menyehatkan pencernaan tubuh. Lalapan herbal dari jenis kemangi, beluntas, dan daun binahong dengan sambal sereh atau sambal tomat mentah dapat menyehatkan perut, bahkan lemak di badan bisa luntur karena pengaruh enzim yang terkandung di dalam tanaman herbal.
Gaya hidup herbal telah lama dilupakan masyarakat kota seiring dengan makin berkembangnya industri makanan yang mengutamakan kecepatan penyajian yang serba instan.
Dengan berkembangnya informasi kesehatan timur, yang mengutamakan tanaman herbal untuk menjaga, memelihara kesehatan dan mengobati penyakit, penggunaan tanaman herbal mulai dikembangkan.
Gaya hidup herbal perlu dimasyarakatkan untuk dipraktikkan kembali penerapan pengobatan timur dengan filosofi kesehatan. "Gunakanlah makanan untuk memelihara kesehatan. Hanya makanan yang sehat bisa menyebabkan tubuh manusia jadi sehat," ujar Gede Ngurah Wididana.
Salah satu produk Pak Oles yang belakangan mencuat ke permukaan adalah loloh dan klorofil. Loloh adalah ekstrak daun herbal yang dilarutkan bersama air. Cara membuat loloh adalah dengan menumbuk, membelender, atau meremas daun herbal dengan air, kemudian disaring agar mudah diminum.
Untuk meningkatkan rasa loloh yang sepat terkadang pahit sesuai dengan bahan herbal yang digunakan, loloh dicampur dengan asam, gula, garam, jeruk nipis, atau jus buah segar.
Loloh adalah minuman herbal segar dari hasil kreativitas ilmu pengobatan masyarakat Bali sebagai keunggulan lokal (lokal genius) yang sangat berharga untuk menjaga kesehatan dan kebugaran masyarakat Pulau Dewata. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026