Semarapura (Antara Bali) - Dua orang siswi di SMAN 1 Gunaksa, Kecamatan/Kabupaten Klungkung, Bali, Selasa mendadak "kerauhan" atau kesurupan dengan meronta-ronta dan berteriak histeris sejadi-jadinya.
Kedua siswi tersebut, Viki Novi Andani siswi kelas 2 IPA 3 dan Vivi seorang siswi kelas 1. Mereka "kerauhan" mendadak pada pukul 10.30 Wita saat pada siswa dan guru melakukan kerja bakti pascamusibah kebanjiran, Jumat pekan lalu.
Menurut pihak sekolah, yang pertama kali "kerauhan" adalah Vivi. Remaja itu tiba-tiba menjerit di halaman sekolah yang memiliki 810 murid itu. "Ngujang mai, sekolah kotor (kenapa ke sini, sekolah kotor)," kata Vivi ditirukan petugas.
Melihat gelagat yang tidak menyenangkan, pihak sekolah memulangkan siswi itu ke rumah yang bersangkutan.
Beberapa menit setelah dipulangkan, tiba-tiba seorang siswi yang lain, Viki Novi Andani, menyusul "kerauhan". Namun, Viki "kerauhan" saat baru beranjak naik angkutan umum yang akan ditumpanginya pulang ke rumahnya di daerah Kusamba.
Di dalam mobil angkutan umum itu, Viki tiba tiba menjerit sambil menangis. Melihat kejadian itu, rekan beserta guru setempat menurunkan siswi dari dalam kendaraan, selanjutnya ditenangkan di ruang kepala sekolah setempat.
Salah seorang guru SMAN 1 Gunaksa, I Wayan Nata mengatakan, para siswa terhitung sering "kerauhan" saat berada di sekolah. "Yang sering 'kerauhan' adalah para pelajar putri," jelasnya.
Sementara pada kesempatan kerja bakti pagi itu, juga disinggung soal kerugian sekolah akibat terkena bencana banjir Jumat lalu.
"Setelah kami melakukan pendataan atas kerusakan yang timbul, sekolah mengalami kerugian sekitar Rp723 juta lebih," kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, I Dewa Gde Anom.
Ia mengatakan kerugian itu dihitung dari 50 unit komputer yang rusak, tembok penyengker sekolah di bagian selatan dan utara sepanjang 150 meter yang roboh, buku perpustakaan dan kursi serta jaringan komputer sepanjang 25 meter yang mengalami kerusakan.(*)
