Denpasar (Antara Bali) - Pemerintah Provinsi Bali melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat merangkul semua pihak untuk mampu mewujudkan Bali menjadi Pulau Bersih dan Hijau (Bali Clean and Green).
"Program lingkungan hidup, tata ruang dan pengelolaan bencana merupakan salah satu dari sepuluh program prioritas utama tahun 2014," kata Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Bali I Ketut Teneng di Denpasar, Minggu.
Ia mengatakan program yang mendapat dukungan dana dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Bali itu mempunyai sasaran mewujudkan pengaturan, pembinaan, dan pengawasan rencana tata ruang untuk mewujudkan tertib tata ruang.
Selain itu, melaksanakan reboisasi hutan dan penghijauan lahan kritis serta terwujudnya koordinasi penanggulangan dan penanganan bencana di Bali.
Ketut Teneng menjelaskan dari enam program prioritas mewujudkan Bali menjadi pulau yang bersih dan hijau dalam triwulan I-2014.
"Semuanya sudah terlaksana, meskipun pencapaiannya masih relatif kecil," katanya.
Kegiatan strategis pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup realisasi triwulan I-2014 tercatat 14,63 persen, menyusul perlindungan dan konservasi sumber daya alam 11,58 persen.
Selain itu juga permberdayaan kelembagaan dan penegakan hukum 7,95 persen, pemanfaatan, perencanaan tata ruang 12,07 persen, rehabilitasi hutan dan lahan 3,03 persen, serta peningkatan aparatur, masyarakat dan penanganan bencana 29,58 persen.
Ketut Teneng mengharapkan kesadaran masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan masing-masing.
Hal itu sesuai penekanan Gubernur Bali Made Mangku Pastika agar seluruh lapisan masyarakat membiasakan hidup bersih, serta mengolah sampah, khususnya sampah plastik menjadi produk yang bernilai ekonomis.
"Sampah dan limbah lainnya dapat diolah menjadi pupuk ramah lingkungan, sehingga mampu mewujudkan Bali yang bersih dan hijau, " ujar Ketut Teneng.
Ia menilai peran serta dan kesadaran masyarakat sangat penting dan menentukan dalam mewujudkan Bali menjadi bersih dan hijau.
Namun, kesadaran untuk hidup bersih itu masih perlu ditingkatkan, termasuk dalam bidang pengelolaan sampah, karena tempat pembuangan akhir (TPA) yang ada selama ini selalu penuh dan belum dapat ditangani secara tuntas.
Bahkan banyak sampah-sampah yang belum tertangani itu menyebabkan sejumlah ruas jalan berubah menjadi TPA ilegal, sehingga sangat mengganggu masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
"Volume sampah perkotaan pada TPA di Bali berdasarkan data BLH setempat setiap harinya mencapai 5.094 meter kubik," katanya.
Oleh sebab itu, peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam menangani dan mengelola sampah secara tuntas, termasuk pengolahnya menjadi pupuk ramah lingkungan maupun produk yang bernilai ekonomis, ujar Ketut Teneng. (WDY)
