"Sebelum mengadakan simulasi, kami sudah terus berhubungan dengan pihak kepolisian. Kami tidak pernah menginginkan kejadian ini terjadi di kemudian hari," ujar Kepala LP Kelas II-A Kerobokan, Gusti Ngurah Wiratna di Denpasar, Jumat.
Menurut dia, pihaknya kini semakin erat berkoordinasi dengan pihak keamanan baik Polsek Kuta Utara dan Polres Badung untuk membantu menjaga situasi di luar lapas terbesar di Pulau Dewata itu sehingga tetap kondusif.
Sebelumnya, sejumlah lapas di Pulau Dewata juga menggelar hal serupa sebagai bentuk antisipasi terjadinya kerusuhan yang dikhawatirkan bisa terjadi akibat adanya gesekan di dalam lapas seperti di LP Tabanan pada Rabu (17/7).
Simulasi tersebut melibatkan petugas lapas, pihak kepolisian dari Polres Badung dan aparat TNI, dan termasuk petugas pemadam kebakaran.
Dalam simulasi itu diskenariokan situasi di dalam lapas yang sedang terjadi keributan yang melibatkan para warga binaan. Awalnya seorang narapidana dianiaya oleh rekannya. Namun penganiayaan itu berubah menjadi kerusuhan dan meluas ke beberapa blok.
Meluasnya kerusuhan membuat pihak internal pengamanan dalam lapas tidak mampu membendung kemarahan warga binaan yang berubah anarkis.
Pihak lapas kemudian menghubungi Polres Badung dan meminta bantuan pengerahan personel untuk mengendalikan situasi. Ratusan narapidana dan tahanan digambarkan telah membakar sejumlah gedung dan blok di dalam lapas dan menyandera beberapa petugas sipir.
Akhirnya api bisa dipadamkan beberapa saat kemudian oleh petugas pemadam kebakaran. Sedangkan petugas kepolisian yang sempat terjadi adu fisik dengan para napi akhirnya berhasil menyelamatkan sipir dan dalam waktu kurang dari 1 jam, situasi dalam lapas sudah bisa dikendalikan. (DWA)
Pewarta: Oleh Dewa WigunaEditor : Dewa Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.