Denpasar (ANTARA) - Pandemi COVID-19 yang tidak saja berpengaruh pada kesehatan masyarakat Bali, juga telah memukul perekonomian Pulau Dewata menjadi benar-benar terpuruk. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Bali bersama pihak terkait terus menggencarkan vaksinasi COVID-19 agar bisa segera bangkit.

Gubernur Bali Wayan Koster menargetkan capaian vaksinasi COVID-19 di daerah setempat perharinya mencapai 50 ribu orang, yang merupakan upaya untuk percepatan vaksinasi dan persiapan untuk membuka pariwisata mancanegara mulai akhir Juli 2021.

"Percepatan vaksinasi dengan target pada tingkat provinsi minimum sebanyak 50 ribu orang per hari, atau pada tingkat kabupaten/kota sebanyak 5.000-8.000 orang perhari," kata Koster saat menggelar rapat koordinasi di Jayasabha, Denpasar belum lama ini.

Target jumlah penduduk yang divaksinasi sebanyak 3 juta orang (70 persen dari 4,3 juta orang penduduk Bali) agar terbentuk kekebalan kelompok masyarakat (herd immunity). 

Sampai 23 Juni 2021 tercatat jumlah penduduk yang sudah divaksinasi dosis pertama sebanyak 2.018.155 orang (67,36 persen) dan jumlah penduduk yang sudah divaksinasi dosis kedua sebanyak 725.824 orang (24,23 persen)."Pencapaian vaksinasi ini merupakan tertinggi di Indonesia," ucap Koster.

Atas koordinasi dan komunikasi secara intensif melalui Menteri Kesehatan, sampai 22 Juni 2021, Bali telah memperoleh vaksin sebanyak 3.914.720 dosis atau sekitar 65,24 persen dari 6 juta dosis vaksin yang diperlukan. Ini merupakan jumlah alokasi vaksin tertinggi di Indonesia. 
 
Pihaknya menargetkan waktu selesai vaksinasi dosis pertama paling lambat pada 10 Juli 2021 dan target waktu selesai vaksinasi dosis kedua paling lambat pada 10 September 2021. 

Baca juga: Gubernur: PPDN gunakan transportasi udara ke Bali wajib kantongi uji PCR
 
Untuk percepatan vaksinasi dosis pertama dilakukan dengan cara memakai pendekatan vaksinasi massal berbasis banjar (dusun) dan komunitas. Kemudian menyiapkan tenaga vaksinator sesuai kebutuhan dan memperbanyak tim vaksinator.

Selain itu, bekerja sama dengan RS Pemerintah, RS Swasta, Perguruan Tinggi Kesehatan, TNI dan POLRI, pihak hotel, dan pihak lain. 

"Kita akan memobilisasi warga desa/kelurahan dan desa adat agar mengikuti program vaksinasi dengan melibatkan kepala desa/lurah, bandesa adat, Babinsa, Babinkamtibmas, pacalang (petugas keamanan adat), yowana (muda-mudi), TP PKK, dan tokoh masyarakat desa," katanya.
 
Bila perlu, desa adat dapat menerapkan kearifan lokal masing-masing untuk mengundang krama (warga) agar tergerak mengikuti vaksinasi. 

Koster meminta pemerintah kabupaten/kota agar melakukan percepatan vaksinasi dosis kedua dengan cara memastikan penggunaan vaksin AstraZeneca  dengan batas waktu delapan minggu untuk vaksinasi dosis kedua dan membagi penugasan tim vaksinator dosis pertama dan kedua.

"Vaksinasi dilaksanakan setiap hari, termasuk Sabtu dan Minggu, tidak ada hari libur," kata Gubernur Bali.

Vaksinasi harus 70 persen 

Sementara itu, ahli virologi dari Universitas Udayana Prof Dr I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengatakan idealnya cakupan vaksinasi COVID-19 di Provinsi Bali harus sudah 70 persen dari populasi untuk membuka pariwisata setempat bagi wisatawan mancanegara.

"Cakupan vaksinasi 70 persen itu tentu untuk kelompok berisiko, yang berusia 18 tahun atas, terlebih bagi mereka yang masuk kelompok sosial aktif seperti mahasiswa dan anak-anak SMA," kata Prof Mahardika.

Menurut dia, dengan cakupan vaksinasi sudah 70 persen diyakini kasus baru COVID-19 akan melandai sehingga akan memberi kenyamanan bagi masyarakat setempat dan juga wisatawan yang datang, seperti halnya yang sudah terjadi di sejumlah negara maju di Eropa.

"Sepertinya halnya di Inggris, dengan cakupan vaksinasi sekitar 50 persen, mereka sementara ini sudah berhasil mengendalikan kasus. Dari yang sebelumnya hingga 70 ribu kasus perhari pada Januari, kini menjadi sekitar 2.000-3.000 kasus perhari," ucapnya.

Paling tidak, ujar dia, Bali secepatnya harus mengejar cakupan vaksinasi COVID-19 untuk dosis kedua hingga mencapai 50 persen, barulah akan dapat terlihat dampak dari vaksinasi yang telah dilakukan.

Selain pentingnya cakupan 70 persen vaksinasi, Prof Mahardika mengatakan wisatawan mancanegara yang datang ke Bali juga harus telah menjalani vaksinasi lengkap (dua kali).

"Wisatawan ketika masuk ke Bali pun harus difilter dengan uji swab PCR. Tidak bisa ditawar-tawar hanya menggunakan rapid antibodi, rapid antigen ataupun Genose karena itu banyak bolong-bolongnya atau sensitivitasnya hanya sekitar 75-80 persen sehingga penanganannya menjadi tidak maksimal," ujar Prof Mahardika.

Prof Mahardika pun mengharapkan pemerintah daerah agar lebih menggencarkan atau mengintensfkan ULI yakni uji, lacak dan isolasi agar penambahan kasus baru COVID-19 dapat dikendalikan.

Baca juga: Gubernur Bali: Perketat prokes di tingkat desa/banjar hadapi lonjakan COVID-19

"Fluktuasi kasus baru COVID-19 masih sering terjadi karena ULI tidak pernah dilakukan dengan cara intensif akibat berbagai keterbatasan yang terjadi di lapangan," katanya.

Pentingnya vaksinasi juga disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho yang mengatakan vaksinasi COVID-19 ini sangat penting karena dengan kesehatan pulih, maka ekonomi akan bangkit.

"Untuk itulah, Bank Indonesia dan seluruh industri keuangan sangat mendukung program vaksinasi ini sebagai upaya untuk mewujudkan 'herd  immunity COVID-19. Pada akhirnya, diharapkan dapat melindungi masyarakat dari COVID-19 untuk tetap produktif secara sosial dan ekonomi menuju pemulihan ekonomi Bali," ucapnya.

Mantan KPwBI DKI Jakarta itu menambahkan, pandemi COVID-19 telah menyebabkan Bali sebagai penyumbang devisa pariwisata nasional terbesar menjadi provinsi yang paling terdampak dengan angka pertumbuhan ekonomi tahun 2020 sebesar minus 9,31 persen (yoy).

Pada triwulan I-2021, pertumbuhan ekonomi Bali pun masih mengalami kontraksi yakni sebesar minus 9,85 persen.

"Tidak ada cara lain, game changernya ini vaksinasi, jadi kalau orang luar datang juga merasa nyaman di Bali," ucap Trisno.

video oleh Pande yudha


Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor : Adi Lazuardi

COPYRIGHT © ANTARA 2026