Denpasar (Antara Bali) - Bali menghadapi masalah lingkungan hidup yang sangat berat dan rumit sebagai dampak dari perkembangan pariwisata yang cukup pesat, di samping kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat setempat terhadap kelestarian lingkungan.
"Daerah kita menghadapi masalah lingkungan berat, mulai dari perubahan flora fauna hingga pencemaran serta menurunnya kualitas sumberdaya alam dan kualitas lingkungan perkotaan," kata Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr Drs I Ketut Sumadi MPar di Denpasar, Senin.
Ia mengatakan, kerusakan lainnya juga terjadi pada infrastruktur dan fasilitas pendukung yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak negatif pembangunan pariwisata terhadap lingkungan fisik sangat mudah dilihat, baik yang terjadi pada tanah atau daratan, perairan maupun kondisi udara.
Perusakan dan pencemaran antara lain terjadi pada air, termasuk air tanah dan air permukaan, serta pada lapisan tanah dan udara. Selain itu juga perubahan pada penggunaan tanah, terutama alih fungsi lahan pertanian yang sulit dikendalikan.
"Hamparan lahan pertanian yang subur banyak yang telah berubah menjadi gedung dan bangunan-bangunan permanen, termasuk hotel dan vila. Hal itu bisa dengan mudah kita lihat di kawasan wisata Ubud, Gianyar dan kawasan strategis lainnya," ujar Ketut Sumadi.
Demikian pula beberapa kawasan hutan telah dibabat menjadi fasilitas, sarana atau prasarana pariwisata, sehingga sangat berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan, seperti ditandai terjadinya banjir dan tanah longsor saat musim hujan.
Ketut Sumadi, alumnus S-3 Kajian Budaya Universitas Udayana itu menambahkan, peralihan lahan produktif menjadi tidak berfungsi lagi sebagai lahan pertanian, pada awalnya akan mengakibatkan hilangnya flora dan fauna.
Kondisi demikian selain mengganggu keseimbangan ekosistem, juga mengakibatkan terjadinya perubahan pandangan terhadap tata guna lahan, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, sebagai akibat dari adanya pembangunan fisik yang sangat pesat.
Perubahan yang pesat selama tiga dasa warsa terakhir dalam bidang pariwisata, terjadi karena kebijakan pemerintah yang memberikan peluang kepada kaum kapitalis untuk menghegomoni masyarakat lokal. Hal itu menimbulkan arogansi kekuasaan dan kebablasan dalam pengembangan objek wisata, yang mengakibatkan lingkungan Bali semakin mengkhawatirkan.
Banyak objek wisata yang dikembangkan mencaplok ratusan hektare lahan pertanian produktif, dan bahkan menggusur atau mengganggu keberadaan tempat-tempat suci (parahyangan) yang terdapat di lahan tersebut.
Selain itu juga mencaplok kawasan pantai, kemudian menutup fungsi pantai sebagai tempat suci bagi orang Bali dalam prosesi upacara Melasti, yakni ritual penyucian alam semesta dan diri sendiri menjelang Hari Suci Nyepi, tahun baru Saka.
Keharmonisan hubungan manusia Bali dengan Tuhan Yang Maha Suci kini mulai terganggu, sehingga secara langsung berpengaruh buruk pada sikap dan perilaku masyarakat setempat terhadap lingkungan dan sesamanya.
Fenomena yang muncul antara lain terjadinya kontradiksi antara tuntunan religius atau kearifan lokal warisan leluhur dengan kepentingan pariwisata, ujar Ketut Sumadi menandaskan.(*)
