Denpasar (Antara Bali) - Subsektor perikanan di Bali dalam membentuk nilai tukar petani (NTP) peranannya sebesar 102,22 persen selama bulan Mei 2016 meningkat 1,23 persen dibanding bulan sebelumnya tercatat 100,94 persen.

"Subsektor perikanan itu terdiri atas usaha penangkapan ikan dan budidaya perikanan perannya cukup strategis dalam membentuk NTP di daerah ini," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho di Denpasar, Minggu.

Ia mengatakan, secara umum kenaikan subsektor perikanan tersebut dipicu oleh indeks harga yang diterima petani (lt) naik sebesar 1,06 persen dan indeks yang dibayar petani (lb) menurun 0,16 persen.

Kenaikan indeks harga yang diterima petani dipicu oleh naiknya harga-harga pada kelompok perikanan tangkap dan budidaya perikanan masing-masing 1,27 persen dan 0,69 persen.

Adi Nugroho menambahkan, secara umum beberapa komoditas perikanan yang mengalami kenaikan harga antara lain tongkol, rumput laut, kerapu, udang, cakalang dan layur.

Sementara itu penurunan pada indeks yang dibayar petani didorong oleh turunnya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,23 persen.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Jembrana awal bulan ini memerintahkan dua badan usaha milik negara (BUMN) untuk membeli ikan hasil tangkapan nelayan di Bali barat itu.

Perindo dan Perinus, sebagai perusahaan BUMN harus membeli ikan nelayan di Jembrana agar harganya stabil. PT Perikanan Nusantara (Perinus) dan Perum Perikanan Indonesia (Perindo), bisa memainkan peran agar harga ikan tidak anjlok saat hasil tangkapan nelayan melimpah.

Dengan peran dua BUMN tersebut, diharapkan harga ikan jenis lemuru, yang merupakan hasil tangkap laut utama di Kabupaten Jembrana, harganya bisa naik dari semula Rp4 ribu hingga Rp6 ribu, menjadi Rp7 ribu hingga Rp9 ribu perkilogram.

Adi Nugroho menjelaskan, subsektor perikanan merupakan salah satu dari lima yang menentukan pembentukan NTB Bali. Dari kelima subsektor itu seluruhnya mengalami peningkatan.

Dengan demikian satupun subsektor di Bali tidak ada yang mengalami penurunan. Empat subsektor lainnya terdiri atas subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,77 persen, hortikultura 0,30 persen, tanaman perkebunan rakyat 2,66 persen dan subsektor peternakan 0,80 persen, ujar Adi Nugroho. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026