"Menurunnya NTP-Pr itu dipicu oleh naiknya indeks yang diterima petani (lt) sebesar 0,03 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Ir Adi Nugroho, MM di Denpasar, Sabtu.
Ia mengatakan, sedangkan indeks yang dibayar petani (lb) mengalami kenaikan lebih besar yakni 0,30 persen. Beberapa komoditas perkebunan yang memberikan andil atas naiknya indeks yang diterima petani antara lain kelapa, kopi dan biji jambu mete.
Pada sisi lain kenaikan pada indeks yang dibayar petani dipengaruhi oleh indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,25 persen serta biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) 0,49 persen.
Adi Nugroho menjelaskan, subsektor perkebunan merupakan salah satu dari lima subsektor yang menentukan pembentukan NTP Bali yang terdiri atas empat subsektor mengalami penurunan dan satu-satunya sektor peternakan yang mengalami peningkatan.
Empat subsektor yang mengalami penurunan selain subsektor perkebunan juga hortikultura sebesar 0,73 persen, tanaman pangan 1,59 persen dan subsektor perikanan 1,49 persen.
Satu-satunya subsektor peternakan yang terdiri atas ternak besar, ternak kecil, unggas dan hasil ternak lainnya mengalami kenaikan sebesar 0,17 persen, ujar Adi Nugroho. (WDY)
Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.