Miami (Antara Bali/AFP) - Perempuan yang mengalami stres pascatrauma memiliki risiko terserang diabetes tipe 2 dua kali lebih besar ketimbang perempuan yang tidak menderita PTSD (gangguan stres pascatrauma), menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat pada Rabu.
Penelitian di jurnal JAMA Psychiatry dipimpin oleh para ilmuwan kesehatan publik di Columbia University dan Harvard University, dan memberikan “bukti paling meyakinkan hingga saat ini mengenai hubungan antara PTSD dan diabetes tipe 2,†menurut pernyataan jurnal tersebut.
Data penelitian diambil dari survei terhadap hampir 50 ribu perempuan AS dari 1989 hingga 2011.
Para peneliti menemukan hampir separuh peningkatan risiko diabetes disebabkan oleh penggunaan obat antidepresan (34 persen) dan makan secara berlebihan, seperti yang diukur menggunakan kenaikan indeks massa tubuh (14 persen).
Namun, separuh peningkatan risiko lainnya masih belum dapat dijelaskan, dan para peneliti mengesampingkan kemungkinan keterkaitan dengan merokok, diet, konsumsi alkohol atau olahraga.
Penelitian tersebut juga menemukan semakin besar gejala PTSD yang dialami perempuan, semakin tinggi risiko terserang diabetes tipe 2.
Sekitar satu dari sembilan perempuan mengalami PTSD, atau dua kali lebih tinggi dari rasio pada pria, menurut penelitian tersebut.(WDY)