Denpasar (ANTARA) - Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih di Kabupaten Tabanan merangkaikan Jatiluwih Festival 2026 dengan ajang lari santai Bali Tourism Run untuk memperkuat citra pariwisata kawasan.

“Salah satu tujuan kami memperkuat citra agar peserta tahu Jatiluwih saat ini aman-aman saja, karena ya saat ada kasus pemasangan seng, kunjungan Jatiluwih itu turun banget, akhirnya yang dirugikan masyarakat sendiri,“ kata Manager Operasional DTW Jatiluwih John Ketut Purna di Denpasar, Rabu.

Sebelumnya, DTW Jatiluwih dihadapkan pada konflik pelanggaran tata ruang, dimana sejumlah usaha pariwisata yang membuat bangunan di area subak berstatus Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO itu disegel pemerintah, hingga akhirnya muncul perlawanan dengan memasang pagar seng.

Setelah konflik mereda dan menemukan jalan tengah, masyarakat dan pengelola sepakat kembali mengadakan Jatiluwih Festival untuk menarik kunjungan wisatawan.

Ajang lari santai menyusuri subak Jatiluwih kemudian dipilih, bekerja sama dengan asosiasi agen perjalanan wisata Indonesia (Asita) dan Pemprov Bali.

John menilai dengan mengajak wisatawan berlari melihat langsung kawasan akan memperkuat citra Jatiluwih sebagai destinasi berkualitas yang merawat alam dan masyarakatnya kompak.

Jatiluwih Festival digelar pada 20-21 Juni 2026 yang pada hari pertama diwarnai pertunjukan-pertunjukan hiburan dan memberi pengalaman langsung kepada pengunjung bertani di sawah, khususnya memanen karena momen tersebut bertepatan dengan musim panen.

Pada hari kedua ditargetkan 2.000 peserta lari santai bergabung untuk menikmati khasnya pariwisata di Jatiluwih, yaitu hamparan sawah berundak yang sedang di masa panen raya.

Untuk semakin mensejahterakan petani dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal, selama kegiatan akan disediakan puluhan UMKM produk pangan lokal.

Para pengunjung DTW yang membeli tiket lari santai akan mendapat paket kupon berbelanja di UMKM, sehingga pelaku usaha tak perlu khawatir produknya tidak laku dan peserta merasakan pengalaman positif sepanjang acara.

Dengan begitu festival tersebut bisa kembali mendapatkan hati wisatawan, dimana pascakonflik pagar seng kunjungan sempat turun ke angka 500-600 kunjungan per hari dari yang sebelumnya bisa menembus 1.000 kunjungan.

Sementara itu, Mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali Trisno Nugroho memandang langkah kolaborasi DTW Jatiluwih, Asita, dan Pemprov Bali sangat tepat.

Jika dilihat dari tren kunjungan sepanjang 2026, kunjungan wisman pada bulan Januari, Februari, Maret turun, namun mulai merambat naik sejak April, hingga hari ini 70 persen kunjungan didominasi wisatawan asing.

Dengan DTW Jatiluwih yang pasarnya adalah wisman, maka peluang menggaet wisatawan pada bulan Juni sangat besar, apalagi sejauh ini konflik geopolitik menurutnya tidak banyak mempengaruhi minat wisman justru paling berpengaruh di domestik.

“Wisatawan asing karena ada pelemahan rupiah tentunya dia akan merasa lebih murah di Bali, menghitung dia, sehingga yang harus dijaga saat ini adalah kualitas,” kata Trisno.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026