Singaraja (ANTARA) - Peringatan Hari Penyu Sedunia di Bali bagian utara setiap penghujung bulan Mei tidak berhenti pada seremonial belaka.
Khusus untuk tahun ini, warga bersama komunitas penyelamat satwa di Desa Adat Banyuasri, Kabupaten Buleleng, Bali, mengambil langkah nyata membangun rumah konservasi penyu hijau di Pantai Camplung.
"Bertepatan dengan Hari Penyu Sedunia, aksi ini selaras dengan tujuan kami untuk melestarikan penyu yang bertelur di Pantai Banyuasri," kata Ketua Konservasi Penyu Desa Banyuasri, Nyoman Sadwika di sela-sela pembangunan fasilitas tersebut, Minggu.
Sadwika mengungkapkan, pembangunan pos konservasi ini didasari oleh kondisi darurat di lapangan.
Pantai Camplung selama ini menjadi lokasi favorit penyu untuk mendarat dan bertelur, namun posisinya sangat rawan.
Ancaman terbesar bagi keberlangsungan hidup penyu di kawasan tersebut, lanjut dia, justru datang dari serangan predator berupa anjing liar.
Oleh karena itu, komunitasnya kini berfokus pada penyelamatan dini dengan merelokasi telur-telur penyu ke tempat yang lebih aman.
Saat ini, warga sedang gotong-royong membuat bak penetasan khusus.
"Di samping bak itu nantinya kami buatkan kolam. Jadi begitu tukik (anak penyu) menetas, mereka bisa langsung bergerak menuju air," ujarnya.
Meski program pelestarian jangka panjang masih dalam tahap pematangan, aksi penyelamatan darurat ini tetap berjalan berkat swadaya.
Seluruh pendanaan sejauh ini mengandalkan sokongan dari Desa Adat, dana punia, serta sumbangan sukarela dari para relawan.
Mengingat keterbatasan yang ada, Sadwika mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut ambil bagian, karena menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Inisiatif mandiri ini pun mendapat apresiasi positif dari masyarakat pesisir dan kelompok nelayan setempat.
Keberadaan rumah konservasi ini dinilai bisa menjadi sarana edukasi efektif agar warga ikut menjaga habitat satwa dilindungi tersebut.
"Nilai positifnya, ini memberikan edukasi langsung kepada masyarakat di sini tentang pentingnya menjaga habitat penyu," kata salah seorang nelayan setempat, Ida Bagus Komang Satya
Namun, warga dan nelayan setempat menyadari gerakan swadaya ini memiliki keterbatasan, termasuk anggaran jika harus berjalan sendiri dalam waktu lama.
Mereka menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Buleleng maupun Pemerintah Provinsi Bali ikut turun tangan memberikan perhatian nyata dan dukungan riil demi keberlanjutan konservasi penyu hijau di kawasan tersebut.
Pewarta: Tim Redaksi Antara BaliEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.