Denpasar (ANTARA) - Survei Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menyebutkan harga kamar perhotelan termasuk properti komersial mengalami kontraksi sebesar 5,85 persen pada triwulan I-2026 dibandingkan triwulan IV-2025 mencapai 0,68 persen diperkirakan akibat dampak konflik di Timur Tengah.

“Permintaan hotel menurun akibat ketimpangan distribusi permintaan antar-pelaku usaha di tengah berkurangnya pangsa wisatawan domestik dari sektor pemerintahan dan wisatawan mancanegara akibat konflik geopolitik,” kata Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani melalui siaran pers di Denpasar, Rabu.

Ia menjelaskan koreksi harga pada segmen perhotelan karena meningkatnya tekanan kompetisi dan tingginya sensitivitas harga wisatawan domestik karena faktor musiman dan penyesuaian harga.

Secara umum dari hasil survei, kata dia, indeks permintaan properti komersial di Bali pada triwulan I-2026 terkontraksi sebesar 9,27 persen disebabkan oleh penurunan pada segmen perkantoran sewa sebesar minus 14,91 persen, apartemen sewa sebesar minus 5,99 persen dan hotel sebesar minus 15,02 persen.

Pada segmen perkantoran sewa, permintaan menurun seiring dengan perubahan preferensi penyewa pada penggunaan ruang kerja fleksibel dengan biaya yang lebih efisien.

Pada segmen apartemen sewa, imbuh dia, penyewa cenderung memilih masa tinggal yang lebih singkat dari 6-12 bulan menjadi satu hingga dua bulan karena tersedianya pilihan akomodasi lain seperti vila dan resort dengan fasilitas yang beragam.

Meski demikian, permintaan untuk segmentasi ritel sewa tumbuh 13,49 persen seiring dengan masuknya gerai waralaba internasional di bidang makan dan minum serta produk konsumtif lainnya.

Di sisi lain, pasokan properti komersial Bali pada triwulan I-2026 tetap solid tercermin dari Indeks Pasokan Properti Komersial triwulan I-2026 yang meningkat sebesar 4,48 persen terutama pada segmen ritel sewa dan hotel.

Pada ritel sewa, peningkatan pasokan terjadi karena adanya kegiatan ekspansi oleh responden yang menyasar pada segmen ekonomi kelas atas.

Adapun pada segmen hotel, sejumlah responden hotel berbintang tetap melakukan penambahan kamar sebagai strategi jangka panjang untuk mengakomodasi prospek kunjungan wisatawan.

Sebagai bagian dari upaya menumbuhkan ekonomi, ia menegaskan BI mendukung pertumbuhan properti komersial yang berkualitas, melalui pembiayaan perbankan yakni Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

“Dengan demikian, pasokan dan permintaan properti komersial dapat terjaga sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” imbuhnya.



Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026