Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bunyi seruan bersama yang sudah disampaikan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali mengenai Hari Raya Nyepi tetap sama.
“Tadi bersepakat tidak berubah,” ucap dia di Denpasar, Rabu, setelah rapat bersama pemimpin-pemimpin organisasi keagamaan di Bali.
Adapun seruan bersama yang paling disoroti tentang kebijakan takbiran.
Apabila Sidang Isbat memutuskan 1 Syawal jatuh pada 20 Maret 2026 atau sehari setelah Nyepi, maka tetap memberi izin beribadah dengan berjalan kaki ke masjid dan tanpa pengeras suara.
Hingga kini, Pemprov Bali masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat, untuk mengantisipasi ketika Nyepi bertepatan malam takbiran, ia meminta masing-masing organisasi keagamaan, khususnya Muslim, mengajak umatnya ikut menjaga perayaan Nyepi agar tetap khidmat.
“Kan nanti keputusan resmi ada Sidang Isbat, tapi dorongannya adalah masing-masing majelis dari MUI, Muhammadiyah, NU, ke internal masing-masing bagaimana agar perayaannya ini berjalan dengan baik dan khidmat,” ujarnya.
Koster menambahkan setelah pertemuan tertutup itu, seluruh forum keagamaan sepakat agar Hari Raya Nyepi di Bali berjalan kondusif, aman, dan nyaman.
“Seruannya saling menghormati satu sama lain, jaga toleransi, kerukunan, dan keharmonisan antar umat beragama,” kata Gubernur Koster.
Sementara itu, Ketua FKUB Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menambahkan dengan adanya arahan Pemprov Bali, maka selanjutnya pimpinan-pimpinan organisasi keagamaan akan meminta umatnya di Bali menjaga kesakralan Nyepi.
“Kami sudah mendapat jaminan yang konkret dari MUI, NU, dari Muhammadiyah yang akan meminta umatnya masing-masing benar-benar menjaga kesakralan Nyepi sehingga misalnya takbiran atau tarawih akan dijalankan tanpa mengganggu kekhusukan Nyepi dan di sana juga ada desa adat ada pecalang yang tidak mungkin membiarkan terjadi penodaan dan pelanggaran,” ujarnya.
FKUB Bali mengingatkan situasi Nyepi berdekatan dengan Idul Fitri bukan hal baru di Bali, bahkan beberapa hari keagamaan umat lainnya juga pernah bersamaan dengan Nyepi.
Namun, semua umat beragama di Bali menjunjung tinggi toleransi sehingga selama ini selalu berjalan baik sesuai bunyi seruan bersama.
Mencermati media sosial banyak memengaruhi gejolak di masyarakat hingga tingkat nasional, ia mengajak seluruh masyarakat Bali tidak terprovokasi.
“Kadang-kadang juga mohon maaf ya ada yang memprovokasi sengaja kan tidak berpikir positif kerukunan, ya itu sudahlah yang jelas kami di majelis-majelis dan umat beragama kami bertekad akan nanti akan menjelaskan kepada umat-umat kami sendiri,” kata dia.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026