Denpasar (ANTARA) -
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat penyaluran beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) di Bali pada 2025 hingga 8 Februari 2026 mencapai 9.912 ton.
“Kami sudah menugaskan Bulog untuk terus menyebarkan (beras) SPHP untuk penyeimbang harga,” kata Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa di sela rapat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Bali di Denpasar, Selasa.
Ia menjelaskan realisasi tersebut baru mencapai 49,18 persen dari target 20.157 ton.
Astawa menambahkan beras SPHP dikerahkan apabila harga beras tinggi sebagai salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga.
Sementara itu, realisasi beras SPHP secara nasional sudah menembus 909 ribu ton atau 60,64 persen.
Tiga realisasi terbesar adalah Jawa Timur mencapai 121.052 ton dan Jawa Tengah mencapai 100.669 ton serta Jawa Barat sebanyak 85.261 ton.
Pemerintah, kata dia, juga akan menyalurkan bantuan pangan pada Februari-Maret 2026 kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat.
Bantuan pangan itu berupa 10 kilogram beras dan dua liter minyak goreng yang diberikan sekaligus.
Sementara itu, Manager Operasional Bulog Bali Eko Yudi Miranto dalam paparannya menjelaskan realisasi bantuan pangan di Bali selama 2025 mencapai 6.011 ton.
Bulog Bali juga mencatat penyaluran SPHP jagung pada 2025 mencapai 251.160 kilogram di Kota Denpasar, Kabupaten Bangli dan Kabupaten Karangasem.
Sedangkan penyaluran minyak kita pada 1 Januari-9 Februari 2026 mencapai 207.324 liter di Bali dengan harga eceran tertinggi mencapai Rp15.700 per liter.
