Denpasar (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Bali mengajukan penutupan penanaman modal asing (PMA) risiko rendah di Provinsi Bali ke Kementerian Investasi.

“Kami sudah bersurat bahwa ada beberapa PMA yang rencananya kami akan tutup, ada tujuh KBLI (klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia ) terutama yang risiko rendah dan berisiko menengah rendah,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bali I Ketut Sukra Negara.

Sukra Negara di Denpasar, Senin, mengatakan pengajuan itu dilakukan Pemprov Bali agar investasi yang masuk dari modal asing berkualitas.

Selama ini, PMA risiko rendah rawan disalahgunakan.

Mereka dapat memakan ruang pelaku usaha lokal atau penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Adapun KBLI yang hendak ditutup yaitu penyewaan sepeda motor, perdagangan eceran, jasa fotografi, biro perjalanan wisata, dan real estat.

“Pak gubernur sudah bersurat ke kementerian dan sudah dibahas, saya rasa sudah ada lampu hijau, kami sudah diskusi dengan deputi pengendalian dan pengawasan investasi, berdiskusi juga dengan desk investasi yang pada prinsipnya menyambut baik,” ujar dia.

Jika Kementerian Investasi menyetujui penutupan PMA risiko rendah, DPMPTSP Bali menilai pemerintah berhasil mengambil langkah strategis guna menata investasi asing di Bali, lanjutnya.

“Mudah-mudahan diputuskan dalam waktu dekat bisa bulan-bulan ini, kalau langkah ini bisa diambil oleh pemerintah pusat maka ini Bali yang pertama di Indonesia,” katanya menambahkan. 

Namun jika PMA risiko rendah ditutup, DPMPTSP Bali menyadari realisasi investasi akan menurun, sebab PMA dengan investasi kecil di risiko rendah yang jumlahnya banyak tadi akan berkurang.

Sukra Negara menjelaskan hingga akhir triwulan IV 2025 realisasi investasi di Provinsi Bali mencapai Rp42,81 triliun atau 94 persen dari target Kementerian Investasi yang sebesar Rp45 triliun.

Dari total realisasi investasi 2025 tersebut, PMA memberikan kontribusi terbesar dengan nilai Rp25,60 triliun atau tumbuh 5,7 persen secara tahunan.

“Yang pasti data PMA-nya lebih tinggi, untuk PMA sekarang masih didominasi Australia dan dari data yang ada sebagian besar masih bergerak di bidang real estat,” ujar dia.

Kondisi itu menunjukkan struktur investasi Bali hingga kini masih bertumpu pada sektor tersier dengan hotel dan restoran menjadi penyumbang terbesar bernilai 29 persen; disusul perumahan, kawasan industri dan perkantoran 28 persen, jasa lainnya 17 persen, perdagangan dan reparasi 10 persen, serta transportasi, pergudangan dan telekomunikasi 7 persen.

Sementara sektor primer dan sekunder belum berkembang signifikan.



Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026